Pembibitan Gurami di Lahan Tandus

Selasa, 17 Februari 2009 | 00:54 WIB

Hermas E Prabowo

Lahan di Bukit Menoreh itu gersang dan berkapur. Air sulit didapat. Jangankan berbudidaya ikan, pohon kelapa pun dulu tidak berbuah. Akan tetapi, dari bukit tandus di Dukuh Dengok, Desa Tanjungharjo, 20 kilometer ke arah barat dari Yogyakarta, itu setiap bulannya mengalir 60.000 ekor benih ikan gurami ke segala penjuru.

Benih-benih ikan gurami dari bukit tandus itu menyebar ke wilayah Purworejo, Yogyakarta, Sleman, Bantul, hingga ke wilayah di luar Yogyakarta, seperti ke Cilacap dan Tasikmalaya (Jawa Barat).

Berkat benih gurami itu pula, warga Dukuh Dengok yang selama puluhan tahun kesulitan mendapatkan penghasilan, kini memiliki pendapatan tetap. Ekonomi pedesaan pun berputar karena mereka kini memiliki cukup uang untuk berbelanja kebutuhan hidup.

Perekonomian Dukuh Dengok pun semakin bergairah. Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya Kabupaten Kulonprogo Prabowo Sugondo mengungkapkan, dengan memiliki kolam pembenihan seluas 4 meter x 8 meter saja warga akan memiliki tambahan penghasilan Rp 600.000 per musim panen.

Yang menarik dari sistem pembenihan yang dibangun warga Dukuh Dengok ini, benih ikan yang mereka budidayakan laku terjual pada setiap tingkatan atau ukuran. Mulai dari ukuran kuku, jempol, silet, hingga ukuran empat jari sehingga perputaran uang berlangsung cepat, karena petani tidak harus menunggu panen lama hingga ikan berukuran konsumsi.

Prabowo menjelaskan bahwa selalu ada peluang dalam setiap kesempatan dalam menumbuhkan ekonomi pedesaan, asalkan dilakukan dengan serius dan ada kerja sama yang dilakukan sungguh-sungguh antara pemerintah dan masyarakat.

Seperti yang ada di Dukuh Dengok ini. Pada awalnya warga di sana berniat budidaya lele. Mengingat permintaan lele sekarang ini terus bertumbuh, sehingga ada jaminan pasar. Sebagai ilustrasi, setiap hari di Provinsi Yogyakarta saja memerlukan lele sebanyak 15 ton.

Lahan terbatas

Meski ada peluang untuk budidaya lele, keterbatasan kepemilikan lahan di Dukuh Dengok ternyata menjadi kendala utama. Ketua Lembaga Pemerintahan Masyarakat Desa Tanjungharjo Pujo mengungkapkan, rata-rata warga Dukuh Dengok memiliki lahan terbatas.

Hanya ada lahan pekarangan dan sedikit lahan kebun. Minimnya lahan tidak cocok bila dimanfaatkan untuk budidaya lele karena budidaya lele memerlukan lahan yang lebih luas dan pasokan air yang tentunya lebih banyak. Apalagi lahan di sana tandus dan tidak ada mata air. Air memang bisa diambil dari Selokan Kali Bawang yang disodet dari Kali Progo. Akan tetapi, jarak ketinggian saluran air dengan rumah warga sekitar 300 meter.

Melihat minimnya potensi sumber daya tersebut, mereka pun memilih untuk mengembangkan budidaya gurami. Memang sama saja dengan budidaya lele yang makan tempat, tetapi keuntungan yang didapat bisa lebih besar.

Maka, 3,5 tahun lalu, mulailah warga membudidayakan gurami. Meski kesulitan air, mereka tak putus asa. Bahu-membahu dengan Pemerintah Daerah Kulonprogo, warga di sana pun membangun bak-bak penampungan air, juga membangun sumur resapan sebagai sumber air.

”Kami harus menggunakan tiga pompa air untuk menaikkan air dari selokan ke kolam- kolam ikan,” tutur Prabowo.

Agar menghemat penggunaan air, kolam dibangun menggunakan terpal. Kolam terpal lebih hemat air karena tidak menimbulkan resapan, berbeda dengan kolam lumpur.

Berhasil membudidayakan gurami, mereka pun memperluas kolam. Makin banyak warga yang tertarik ikut membudidayakan ikan. Saat ini terdapat 8.000 meter persegi kolam ikan.

Tidak puas dengan hasil pembesaran gurami ukuran benih ke konsumsi, warga pun mulai merintis usaha perbenihan. Benih didatangkan dari Purwokerto dalam bentuk telur. Harga per butir telur gurami Rp 24. Selanjutnya, telur-telur itu ditetaskan.

Hasil tetesan dipelihara hingga sebesar ukuran kuku, jempol, silet, hingga ukuran empat jari. Semua laku dijual. Masing-masing ukuran benih tersebut dipelihara oleh warga. Agar posisi tawar mereka tinggi, mulailah mereka membentuk kelembagaan dengan mendirikan Kelompok Pembudidaya Ikan ”Argo Mino”.

Atur jaringan produksi

Menurut penasihat Kelompok Pembudaya Ikan Argo Mino, Suhardi, melalui kelompok ini warga mengatur jaringan produksi mulai dari input dalam bentuk pencarian dan mendatangkan benih, membesarkan, mencari sumber pakan dan mendapatkan kualitas pakan terbaik, hingga memasarkan produk. Total anggota kelompok tersebut saat ini berjumlah 32 orang.

Menurut Prabowo, keberhasilan membangun sentra perbenihan gurami tak lepas dari kerja sama warga dan pemerintah daerah. Berbagai bantuan pun diberikan Pemda Kulonprogo. Pada mulanya, mulai dari bantuan terpal, material bangunan, hingga teknis pembenihan.

Selain itu, pemda juga membantu warga mengakses sumber pendanaan, baik dari perbankan maupun koperasi. Maklum, pada awalnya tidak ada satu bank pun yang tertarik memberikan kredit kepada warga di sana.

Selain tidak adanya pendapatan tetap, agunan juga tidak laku karena nilai jual obyek pajak (NJOP) lahan di sana dulu tidak lebih dari Rp 3.600 per meter persegi. Namun, saat ini tidak ada kesulitan lagi bagi petani untuk mengakses sumber pendanaan.

Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor Arif Satria mengungkapkan, keberhasilan warga berbudidaya ikan tidak terlepas dari kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan. Kondisi lingkungan yang sulit, mendorong warga berpikir dan bertindak kreatif.

Penguatan kelembagaan

Ekonomi pedesaan yang ditopang dari usaha budidaya ikan di Dukuh Dengok ini akan semakin berkembang apabila ada penguatan kelembagaan, kepemimpinan, dukungan infrastruktur yang memadai, dan manajemen usaha.

”Soal teknologi budidaya sebenarnya masyarakat sudah menguasai. Terbukti mereka bisa menghemat air dengan memanfaatkan sisa air kolam untuk budidaya lagi sehingga tidak boros air,” katanya.

Tinggal bagaimana menguatkan kembali jaringan sosial di antara kelompok tani. Selain itu, dalam jangka menengah dan panjang, bagaimana pemerintah bisa mengurangi ketergantungan petani terhadap pakan produk perusahaan multinasional.

Selain itu, menurut Arif, kebijakan pemerintah soal stimulus fiskal mestinya diarahkan untuk menggerakkan ekonomi rakyat di pedesaan, seperti budidaya ikan, bukan seperti sekarang yang lebih berorientasi ke wilayah perkotaan.

Alokasi stimulus fiskal untuk desa saat ini hanya Rp 1,05 triliun, sementara untuk kota | Rp 9,15 triliun. Adapun tax saving mencapai Rp 43 triliun. Padahal, yang paling merasakan dampak krisis ekonomi global adalah warga pedesaan.

Sumber : Kompas Cetak

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: