Archive for the ‘Inspiring People’ Category

Iyung, Penyelamat Pesisir Pulau Puhawang

Selasa, 17 Maret 2009 | 03:03 WIB

HELENA F NABABAN

”Bakau masih diupayakan ditanam di tempat kemarin. Namun, sekarang hampir semua wilayah pesisir sudah menjadi milik pengusaha keramba. Jadi kita harus kerja sama.” Itulah pesan singkat dari Yulianti, ibu guru yang giat menggerakkan siswa SDN di Pulau Puhawang, perairan Teluk Lampung, menanam bibit bakau di kawasan yang sudah rusak.

Meski hutan bakau penting bagi ekosistem pulau dan pesisir, serta masyarakat desa Pulau Puhawang, pesan singkat itu menunjukkan Yulianti masih harus berupaya keras mengajak warga desa Pulau Puhawang untuk menjaga dan melestarikan hutan bakau lewat pendidikan lingkungan kepada anak didiknya.

Di desa Pulau Puhawang, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Yulianti atau Ibu Guru Iyung, panggilannya, justru menemukan dunia mengajar dari kegiatannya sebagai aktivis lingkungan hidup pada tahun 1995. Read more »

Alpha dan Kampoeng Batik Laweyan

Rabu, 18 Februari 2009 | 09:16 WIB

CHRIS PUDJIASTUTI dan ARDUS M SAWEGA

Nama Kampung Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, kembali muncul awal tahun ini. Kampung yang dikenal lewat produk batik serta kehidupan khas para perajin dan saudagar batiknya itu tampil di media lewat sosok Alpha Febela Priyatmono. Dia mendapat penghargaan Upakarti untuk kategori jasa kepeloporan. Sejak 2004 ia menjadi Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan.

Upakarti bagi Kampung Laweyan, kata Alpha, sangat berarti. Penghargaan yang diberikan untuk kalangan industri kecil dan menengah itu menunjukkan eksistensi Kampung Laweyan telah diakui pemerintah dan masyarakat.

”Pengakuan itu perlu agar kami terpacu untuk lebih mengembangkan kawasan ini. Di sini juga dituntut tanggung jawab kami untuk menjadikan Laweyan benar-benar menjadi kawasan pusat industri batik dan heritage yang pintar. Pintar dalam arti industri yang ramah lingkungan, hemat energi, melek pengetahuan dan teknologi, dengan tak meninggalkan nilai tradisionalnya,” katanya. Read more »

Greg Hambali, Sang Penghulu Tanaman Hias


Rabu, 9 April 2008 | 14:33 WIB

Para penggemar tanaman hias pasti mengenal nama Gregori Garnadi Hambali atau biasa disapa Greg Hambali. Hasil karyanya dalam menyilangkan tanaman sudah bejibun. Karya terakhirnya yang sukses besar adalah tanaman aglaonema. Pada 2006 silam, aglaonema jenis harlequin hasil silangan Greg Hambali mampu terjual seharga Rp 660 juta lewat proses lelang.

Para penyuka tanaman menilai aglaonema hasil silangan Greg sangat menawan. Saat lelang, sang pemenang, Harry Setiawan, pemilik Irene Flora di Rawa Domba, Jakarta Timur, mengaku aglaonema Greg memang sangat pantas dihargai sebesar itu. Lelang ini menjadi harga termahal sepanjang sejarah tanaman aglaonema. “Kalau pun harga tidak mahal dari lelang, harga yang wajar juga akan terbentuk dari permintaan di pasar,” terang Greg.

Tak ingin menyedot keuntungan yang berlipat dari hasil silangannya, Greg juga meyakinkan bahwa pemilik tunggal silangan pertama akan mendapatkan keuntungan pula. Sebab, jenis baru itu hanya satu orang yang punya. Jika nantinya dapat dianakkan, pemilik aglaonema jenis baru ini memiliki hak jual selama dua tahun. “Jika ingin punya aglaonema jenis baru tersebut, silakan membeli lewat pemilik pertama,” katanya.

Keahlian mengawinkan tanaman adalah buah kecintaan Greg terhadap alam. Sejak kecil Greg memang sangat mencintai alam. Waktu masih bocah, ia punya hobi mengutak-atik tanaman. Pada saat duduk di kelas 4 SD, Greg bahkan memelihara lebah. “Lebah itu saya pelihara untuk diambil madunya,” kenangnya. Read more »

Dr. Fenny M. Dwivany: “Jangan Takut Jadi Peneliti”


Kamis, 26 – April – 2007, 15:07:09

Bulan April selalu diidentikkan dengan bulannya perempuan, karena bertepatan dengan hari Kartini tanggal 21 April. Kartini adalah sosok yang sangat peduli pada pendidikan, tidak hanya pemberdayaan perempuan. Pendidikan dan penelitian juga tampaknya menjadi bidang utama yang digeluti sosok dosen perempuan berikut ini.

Dr. Fenny Martha Dwivany, seorang staf pengajar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB berhasil mendapatkan award dari program L’oreal-UNESCO for Women in Science yaitu : Unesco- L’Oreal for Young Women in Life Science International Fellowship 2007 (Paris, 21 Februari 2007), Unesco-L’Oreal for Women in Science National Fellowship 2006 (Jakarta, 29 Agustus 2006). Dua penghargaan tersebut berupa dana penelitian $40,000. Award tersebut berhasil dimenangkan melalui penelitian beliau yang berjudul ‘Metoda alternatif pengontrolan pematangan buah dengan pembungkaman gen ACC oksidase pada buah pisang’. “Ceritanya, proposal penelitian saya menang di tingkat nasional sehingga saya pun dibawa ke tingkat internasional beserta dua peneliti perempuan lainnya,” tutur perempuan cantik kelahiran 18 April 1972 ini ketika ditemui tim reporter. Read more »

Kadek Eka, Mendunia Lewat Lulur Wangi

Selasa, 20 Januari 2009 | 10:16 WIB

Berani mengambil jalur yang berbeda, Kadek Eka Citrawati (31) harus berpeluh membangun bisnis produk perawatan tubuhnya dari nol. Namun, kerja keras perempuan kelahiran 18 Agustus 1977 ini berbuah manis.

Awal mula membangun Bali Alus?

Orangtua saya di kampung adalah petani. Setiap bulan mereka mengirim rempah-rempah hasil kebun ke berbagai tempat. Bukan cuma Indonesia, tapi juga ke luar negeri seperti India dan Thailand. Ada cengkeh, jahe, temulawak, dan masih banyak lagi. Katanya sih untuk bahan baku kosmetika dan berbagai produk perawatan tubuh.

Lalu?

Dari sini timbul rasa penasaran saya. Kok, kenapa bahan asli Indonesia dipakai untuk produk merek luar yang berarti akan ditempeli brand asing pula? Kenapa bukan kita sendiri saja yang olah bahan-bahan mentah ini hingga jadi produk perawatan tubuh dengan label asli anak Indonesia. Kan, lebih baik dan lebih besar pula nilainya.
Dari sini saya lalu mencoba-coba membuat sendiri beberapa jenis produk perawatan tubuh. Awalnya belum saya kasih nama atau label. Setelah benar-benar fokus di usaha ini, setelah lulus kuliah tahun 2008, baru saya namai Bali Alus.

Apa jenis produk pertama yang Anda buat?

Lulur scrub. Baru kemudian minyak esensial, sabun, dan produk-produk lainnya. Karena waktu memulai saya masih kuliah, jadi hanya sempat mengerjakan di sela-sela waktu luang. Namanya juga coba-coba, lebih banyak gagal daripada berhasilnya.

Apalagi, saya melakukan semuanya sendiri, mulai dari riset, mencari bahan, meramu, eksperimen, sampai tes produk. Makanya butuh waktu lama, bertahun-tahun, baru saya bisa membuat produk yang layak pakai.

Yang juga bikin lama, saya berkeras semua bahan serba tradisional dan asli. Saya ingin produk saya alami dan natural. Misalnya membuat sabun, saya benar-benar dari minyak kelapa murni tanpa campuran bahan kimia sedikit pun.

Berapa lama Anda harus bereksperimen hingga menemukan formula ramuan yang pas hingga bisa menghasilkan produk jadi?

Lama ya, dari saya mulai kuliah hingga lulus. Makan waktunya juga karena saya enggak cuma eksperimen bikin lulur scrub saja, tapi juga produk-produk lain. Saya pikir sekalian saja. Biar nanti jadinya juga serentak, dan saya bisa mulai memasarkan dengan serius.

Kabarnya, latar belakang Anda tidak ada hubungannya dengan produk kecantikan ya?

Betul, tidak ada sama sekali. Saya ini seorang arsitek (Kadek lulusan arsitektur Univesitas Udayana, Bali). Semuanya hanya berbekal rasa suka, rasa penasaran, ditambah keinginan kuat saja.

Jadi saya cuma mengandalkan kekuatan sendiri dan belajar otodidak dalam semua hal. Internet dan buku-buku adalah alat utama saya mencari ilmu tentang pembuatan produk perawatan tubuh. Read more »

Yoris Sebastian, Jadi GM Termuda Se-Asia

Selasa, 27 Januari 2009

Kelahiran Ujung Pandang, 5 Agustus 1972, ini punya sejuta inovasi, termasuk acara “I Like Monday” di Hard Rock Cafe. Pendiri OMG Creative Consulting ini menyabet beragam penghargaan, di antaranya British Council’s International Young Creative Entrepreneur, Asian Pacific Entrepreneur Award Winner (Most Promising Entrepreneurs), Young Marketers Award Winner dari IMA and Markplus, dan Future CEO to Watch dari majalah SWA. Wow!

Sekarang sedang sibuk apa?

Sedang konsentrasi di Oh My Goodness (OMG) Consulting yang saya dirikan. Saya membantu klien yang mau melakukan bisnis secara berbeda atau istilahnya ala “Oh my Goodness”. Saya percaya, bisnis yang dilakukan secara berbeda punya peluang sukses lebih besar ketimbang yang dilakukan secara biasa.

Bisa kasih contoh?

Yang terbaru adalah konsep Plaza FX di Jalan Sudirman. Kami konsultannya. Yang ingin kami tonjolkan adalah keunikan. Karena kalau FX mau bersaing dengan Plasa Senayan atau Senayan City, susah. FX kan size-nya kecil. Tapi selama dia punya keunikan, enggak masalah. Salah satunya kami bikin 12 ruang meeting. Kami juga sediakan 3 bus keliling sepanjang Sudirman dan SCBD selama jam kerja. Perjalanan bus bisa dicek lewat SMS. Jadi, lebih simple dan menolong kapasitas parkir FX yang kecil.

Kadang-kadang, dalam bisnis orang ingin semuanya. Padahal, sekarang eranya enggak bisa begitu. Harus punya ciri sendiri. Core segmen FX adalah orang-orang kantoran di daerah Sudirman. Nah, sekarang FX ramai banget. Itu membuktikan, selama kita punya konsep yang kuat dan unik, tapi tetap dengan perhitungan, harusnya kita juga bisa. Read more »

Joko Sriyanto, Kuli Bangunan Jadi Juragan Batako

Rabu, 25 Februari 2009 | 11:45 WIB

Joko Sriyanto benar-benar beruntung. Keputusannya menekuni bisnis membuat batako telah mengubah hidupnya. Kini, ia menjadi seorang pengusaha sukses dengan omzet miliaran rupiah per tahun. Namun, sebelum sukses menjadi juragan batako, Joko pernah mengalami lika-liku hidup, termasuk menjadi kuli bangunan.

Menjadi pengusaha sukses adalah impian banyak orang. Namun, tak banyak orang yang berani mencapainya tanpa modal yang memadai. Banyak orang beranggapan, untuk menjadi pengusaha sukses harus punya modal besar. Namun, Joko Sriyanto telah mematahkan anggapan itu.

Bagi Joko, modal paling penting adalah kemauan dan keberanian menghadapi risiko. Kedengaran klise, tapi Joko rnembuktikan itulah yang membuatnya berhasil menjadi pengusaha batako dengan omzet miliaran.

Lelaki yang tahun ini berusia 40 tahun cuma lulusan STM. Tapi, kini ia telah menjadi pengusaha sukses yang bisa mengurus bisnis atau sekadar jalan-jalan dengan mengendarai Mercedes-Benz bernomor J 0 KO. “Kemarin saya juga barusan naik haji,” tuturnya. Joko yang dulu hidup di rumah berukuran 2 x 6 meter selama 10 tahun, kini tinggal di rumah megah yang berdiri di atas tanah seluas 6.000 m2. Read more »

Wulandari dan Pengajaran Bahasa Inggris

Rabu, 26 November 2008 | 02:14 WIB

RUNIK SRI ASTUTI

Sri Wulandari menyadari, bahasa Inggris adalah media pembuka jendela dunia. Akan tetapi, karena faktor ekonomi, banyak masyarakat yang belum mampu berbahasa Inggris. Kesadaran itulah yang membuat dia ngotot mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak dari kampung ke kampung. Semuanya diberikan secara cuma-cuma.

Bersama enam temannya sesama alumni lembaga kursus bahasa Inggris di Kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur, Wulan mendirikan sebuah organisasi sosial kepemudaan yang bergerak di bidang pendidikan. Namanya Forum Putra Daerah Peduli Pendidikan (FPDP2) yang didirikan pada tahun 2003. Lembaga ini memberikan pendidikan bahasa Inggris yang baik dan benar kepada segenap lapisan masyarakat tanpa memandang strata sosial.

Materi bahasa Inggris dipilih karena merupakan bahasa internasional. ”Bahasa Inggris adalah suatu kebutuhan, sama halnya dengan bahasa Indonesia. Bangsa kita tertinggal, salah satu penyebabnya, karena masyarakat tidak dapat berkomunikasi menggunakan bahasa dengan baik dan benar,” ujar penerima penghargaan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Sarjana Penggerak Pemuda Pedesaan tahun 2006 ini. Read more »

Bang Yos, Perempuan dan Pemadam Kebakaran

Kamis, 20 November 2008 | 03:00 WIB

Oleh Agnes Rita Sulistyawaty

Nama Yosi Anita kurang populer di kalangan pemadam kebakaran Kota Padang. Namun, sebutlah nama Bang Yos atau buyuang (sebutan ala Minangkabau untuk anak lelaki), maka sosok perempuan Pesisir Selatan inilah yang akan ditunjuk.

Pekerjaan sebagai petugas pemadam kebakaran sekaligus anggota tim SAR Kota Padang, Sumatera Barat, mungkin profesi yang relatif belum biasa dilakukan perempuan. Namun, kecintaannya akan pekerjaan ini sudah tumbuh dalam diri gadis lajang itu.

”Kalau ada orang yang hingga tua masih sulit menemukan profesi yang dicintai, saya sudah cinta mati dengan profesi sebagai petugas pemadam kebakaran sejak lima tahun silam. Kalau boleh, sampai tua nanti saya ingin jadi petugas pemadam saja,” ujar Yosi. Read more »

Guritno, “Australian Artist” dari Bandung

Kamis, 27 November 2008 | 03:00 WIB

Agus Hermawan

Tarikan garis tampak sederhana, tetapi kuat menyedot perhatian dalam warna-warna yang memukau. Beragam ilustrasi flora-fauna-kanguru, koala, buaya, hingga Gedung Opera Sydney atau Jembatan Sydney diterakan dalam keramik berbagai produk suvenir, gelas, mug, mangkok. tatakan atau piring, sampai sabun atau buku catatan (notes). Gambar-gambar kartun, lucu dan mengundang senyum.

Di setiap suvenir selalu diterakan, ”Australian artist Guritno captures the essence of Australian culture, landscape and animals in his unique and colourful artworks.”

”Ha… ha… emang saya orangnya, Kang Guritno tea,” ujar si pemilik karya. Lelaki asal Bandung itu ditemui di tengah keramaian 150-an pedagang suvenir dan kerajinan pasar kaget The Rock Market, Sydney.

Masih kental dengan gaya anak Bandung, Agung Guritno kini dikenal sebagai seniman, desainer, serta perajin keramik papan atas di Negeri Kanguru itu. Karyanya tersebar tidak hanya di sekitar 400 toko cendera mata dari desa hingga kota, dari butik hingga toko biasa, dari mal hingga bandara internasional Australia. Akan tetapi, juga di seluruh dunia, dari Jepang, Selandia Baru, Amerika Serikat, hingga negara- negara Eropa. Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.