<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dunia Belajar</title>
	<atom:link href="http://duniabelajar137.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://duniabelajar137.wordpress.com</link>
	<description>Menulis Untuk merangkai Indonesia Maju</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Mar 2009 15:44:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='duniabelajar137.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dunia Belajar</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://duniabelajar137.wordpress.com/osd.xml" title="Dunia Belajar" />
	<atom:link rel='hub' href='http://duniabelajar137.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Anak Bijak</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/17/anak-bijak/</link>
		<comments>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/17/anak-bijak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 15:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniabelajar137</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniabelajar137.wordpress.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya. Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=205&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya. Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Marklah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri. Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 &#8220;pembalap&#8221; kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata,&#8221;Ya, aku siap!&#8221;. Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat menjagokan mobilnya masing-masing. &#8220;Ayo..ayo&#8230;cepat..cepat, maju..maju&#8221;, begitu teriak mereka. Ahha&#8230;sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. &#8220;Terima kasih.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Saat pembagian piala tiba, Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. &#8220;Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?&#8221;. Mark terdiam.&#8221;Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan&#8221; kata Mark. Ia lalu melanjutkan, &#8220;Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. &#8220;Aku, hanya bermohon pada Tuhan supaya aku tak menangis, jika aku kalah.&#8221; Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan. Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan utuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita <span> </span>kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang shaleh. Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu semua.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniabelajar137.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniabelajar137.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniabelajar137.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniabelajar137.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniabelajar137.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniabelajar137.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniabelajar137.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniabelajar137.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniabelajar137.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniabelajar137.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniabelajar137.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniabelajar137.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniabelajar137.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniabelajar137.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=205&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/17/anak-bijak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0ee3025109d6fa73ad46f66215833ad0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duniabelajar137</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>3 Pertanyaan</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/17/3-pertanyaan/</link>
		<comments>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/17/3-pertanyaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 15:42:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniabelajar137</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniabelajar137.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, Pak Tu&#8217;a atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut. Pemuda : Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya? Pak Tu&#8217;a [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=202&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">seorang Guru agama, Pak Tu&#8217;a atau siapapun yang bisa menjawab 3</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">pertanyaan anda </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : Anda yakin? Sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">mampu menjawab pertanyaan saya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : Saya punya 3 buah pertanyaan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">2. Apakah yang dinamakan takdir </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">3. Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">dari api, tentu tidak menyakitkan buat setan Sebab mereka memiliki unsur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tiba-tiba Pak Tu&#8217;a tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Saya tidak marah&#8230;Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">pertanyaan yang anda ajukan kepada saya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Bagaimana rasanya tamparan saya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : Ya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Tunjukan pada saya wujud sakit itu ! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : Saya tidak bisa </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : Tidak </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">dari saya hari ini? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : Tidak </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Itulah yang dinamakan Takdir </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : kulit </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Terbuat dari apa pipi anda? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : kulit </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Bagaimana rasanya tamparan saya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pemuda : sakit </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pak Tu&#8217;a : Walaupun Setan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan untuk setan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniabelajar137.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniabelajar137.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniabelajar137.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniabelajar137.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniabelajar137.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniabelajar137.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniabelajar137.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniabelajar137.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniabelajar137.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniabelajar137.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniabelajar137.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniabelajar137.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniabelajar137.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniabelajar137.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=202&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/17/3-pertanyaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0ee3025109d6fa73ad46f66215833ad0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duniabelajar137</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iyung, Penyelamat Pesisir Pulau Puhawang</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/iyung-penyelamat-pesisir-pulau-puhawang/</link>
		<comments>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/iyung-penyelamat-pesisir-pulau-puhawang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 23:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniabelajar137</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspiring People]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniabelajar137.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 17 Maret 2009 &#124; 03:03 WIB HELENA F NABABAN ”Bakau masih diupayakan ditanam di tempat kemarin. Namun, sekarang hampir semua wilayah pesisir sudah menjadi milik pengusaha keramba. Jadi kita harus kerja sama.” Itulah pesan singkat dari Yulianti, ibu guru yang giat menggerakkan siswa SDN di Pulau Puhawang, perairan Teluk Lampung, menanam bibit bakau di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=182&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="tglct">Selasa, 17 Maret 2009 | 03:03 WIB</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><!--l version="1.0" encoding="UTF-8-->HELENA F NABABAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">”Bakau masih diupayakan ditanam di tempat kemarin. Namun, sekarang hampir semua wilayah pesisir sudah menjadi milik pengusaha keramba. Jadi kita harus kerja sama.” Itulah pesan singkat dari Yulianti, ibu guru yang giat menggerakkan siswa SDN di Pulau Puhawang, perairan Teluk Lampung, menanam bibit bakau di kawasan yang sudah rusak.</p>
<p style="text-align:justify;">Meski hutan bakau penting bagi ekosistem pulau dan pesisir, serta masyarakat desa Pulau Puhawang, pesan singkat itu menunjukkan Yulianti masih harus berupaya keras mengajak warga desa Pulau Puhawang untuk menjaga dan melestarikan hutan bakau lewat pendidikan lingkungan kepada anak didiknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di desa Pulau Puhawang, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Yulianti atau Ibu Guru Iyung, panggilannya, justru menemukan dunia mengajar dari kegiatannya sebagai aktivis lingkungan hidup pada tahun 1995.<span id="more-182"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum menjadi guru, ia bergabung dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Mitra Bentala yang fokus pada penyelamatan dan pengelolaan pesisir. Tahun 1995 pula dia lulus dari Jurusan Perkebunan Politeknik Universitas Lampung.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak bergabung dengan Mitra Bentala, Iyung aktif mendatangi pesisir dan pulau-pulau di perairan Lampung. Setiap kali datang ke pulau, ia prihatin dengan kondisi pesisir yang tak terurus. Masyarakatnya pun tak peduli pada kesehatan dan kelestarian lingkungan, serta cenderung abai pada pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Fakta itu menggugahnya, apalagi saat ia bekerja di Pulau Puhawang pada 1997. Ia lalu mendalami kondisi pesisir di pulau seluas 1.020 hektar itu. Seharusnya pantai yang berpasir putih dan relatif tenang perairannya itu bisa menjadi obyek wisata. Tempat ini juga cocok untuk budidaya keramba jaring apung kerapu.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, hutan bakau di pulau itu rusak atau malah habis, pulaunya pun kotor. Rupanya warga desa Pulau Puhawang memperlakukan laut sebagai ”tong sampah” dan berperilaku hidup tak sehat.</p>
<p style="text-align:justify;">”Mereka suka membuang hajat sembarangan,” ujar Iyung. Warga desa seolah tak peduli, pulau mereka bersih atau kotor.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan, saat harga kayu bakau sangat menjanjikan, demi rupiah yang bakal diterima, warga bersemangat membabat habis hutan bakau. Mereka tak menyadari, hutan bakau tumbuh untuk menjaga pesisir pulau dari hantaman gelombang. <span lang="DE">Tahun 1975-1996 adalah kurun waktu rusaknya 141 hektar hutan bakau di pulau ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">”Itu menjadi tantangan buat saya, kenapa warga bisa bertindak dan berperilaku tak sehat seperti itu?” ujarnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sebagai aktivis lingkungan, Iyung ingin menyelamatkan hutan bakau dan lingkungan pulau. Ia lantas mengukur dan mendata hutan bakau yang rusak, sekaligus tingkat kerusakannya. Data ini diperlukan untuk mengetahui cara merehabilitasinya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Berkat bantuan informasi dan data dari Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Dusun Penggetahan, Puhawang, dan fakta lapangan, ia mendapati warga Pulau Puhawang umumnya tak berpendidikan. Lulusan SD dinilai sudah bergengsi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">”Sumber daya manusia di sini rendah kualitasnya. Saya pikir inilah penyebab kerusakan lingkungan dan kotornya pulau ini,” ujarnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span lang="DE">Mulai mengajar</span></strong><span lang="DE"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Bagi Iyung, lebih baik memperbaiki meski terlambat daripada sama sekali tak berupaya. Ia memilih memulai perbaikan dari siswa SD karena orangtua umumnya berpikiran konservatif, sulit berubah. Tahun 2000 ia memberikan les mata pelajaran kepada semua siswa mulai kelas I sampai kelas VI SDN Pulau Puhawang secara gratis. Sambil memberikan les pelajaran, ia menyisipkan pendidikan etika dan pendidikan lingkungan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Untuk melakukan perubahan, pendidikan yang tepat akan membuka pikiran warga pulau. Dengan menyisipkan dua macam pendidikan itu, Iyung berharap bisa memperbaiki perilaku warga sedikit demi sedikit.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kesempatan membuat para siswa melek lingkungan makin terbuka saat ia menjadi tenaga sukarela mendampingi masyarakat Puhawang di bidang pendidikan tahun 2002. Sebagai guru sukarela yang membantu lima guru lainnya di SDN Pulau Puhawang, Iyung mendapat gaji Rp 60.000 per bulan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sebagai guru sukarela, Iyung mendapat tanggung jawab mengajar Bahasa Indonesia dan komputer untuk siswa kelas IV, V, dan VI. Ia mengajar hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Selebihnya, hari-hari yang lowong ia gunakan memberi les Bahasa Inggris dan Matematika untuk siswa kelas I sampai kelas VI secara gratis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Dia juga mengajak para siswa mengenal lingkungan dan manfaat hutan bakau bagi pulau, tempat tinggal mereka. Ia pun mengajarkan tentang pentingnya memelihara kesehatan lingkungan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">”Membuat para siswa mengerti dan tak lagi membuang sampah di laut atau membuang hajat itu membutuhkan waktu,” ujar Iyung.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Namun, pelan-pelan para siswa bisa paham. Pemahaman mengenai kesehatan lingkungan dan pelajaran tentang pelestarian lingkungan itu kemudian diharapkan bisa menular kepada para orangtua siswa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">”Anak-anak kadang lebih berhasil memberi tahu orangtuanya dibandingkan dengan aktivis memberi tahu langsung kepada orangtua,” ujar Iyung.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Upaya menyadarkan masyarakat lewat pendidikan itu membuat Iyung lalu mengambil Akta III di D-3 FKIP Universitas Lampung Jurusan Biologi pada 2003. Bulan April 2004 ia lulus dan mendapat sertifikat Akta III. Status Iyung lantas berubah dari guru sukarela menjadi guru bantu di SDN Pulau Puhawang.</p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan status itu tak mengubah minatnya. Iyung tetap mengajar dan mengajak siswa SDN Pulau Puhawang peduli lingkungan. Bersama aktivis Mitra Bentala, ia menyusun program pembelajaran. Kegiatan yang diberi nama Anak Peduli Lingkungan (APL) itu awalnya hanya kegiatan sampingan bagi siswa SDN Pulau Puhawang sejak 2003. Mulai tahun 2007 APL ditetapkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Melalui APL, para siswa diajari menanam bakau, mengawasi, dan menjaga pertumbuhan bibit bakau. Upaya itu memang baru mencapai kisaran puluhan hektar. Namun yang terpenting, perbaikan hutan sudah dimulai.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama berkegiatan di Pulau Puhawang pula yang membuat Iyung menemukan jodoh. Ia menikah dengan Suryadi, anak mantan Ketua BPD Dusun Penggetahan pada 2004. Iyung juga diangkat sebagai guru PNS pada April 2008.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, seperti bunyi pesan singkat yang dikirimkannya, tantangan Iyung mengajak masyarakat pulau menjaga kelestarian lingkungan lewat pendidikan kepada anak-anak belum berkurang. <span lang="DE">APL bersama warga desa memang telah berhasil membuat hutan bakau tumbuh di beberapa titik. Namun untuk menjaga semua kawasan pesisir, masyarakat harus terus bekerja keras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sumber : Kompas Cetak edisi 17 Maret 2009</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniabelajar137.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniabelajar137.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniabelajar137.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniabelajar137.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniabelajar137.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniabelajar137.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniabelajar137.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniabelajar137.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniabelajar137.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniabelajar137.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniabelajar137.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniabelajar137.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniabelajar137.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniabelajar137.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=182&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/iyung-penyelamat-pesisir-pulau-puhawang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0ee3025109d6fa73ad46f66215833ad0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duniabelajar137</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Denyut Betawi di Srengseng Sawah</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/denyut-betawi-di-srengseng-sawah/</link>
		<comments>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/denyut-betawi-di-srengseng-sawah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 16:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniabelajar137</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide Pembangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniabelajar137.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA — Seiring waktu berjalan,Jakarta telah berevolusi menjadi sebuah kota modern dengan beragam simbol kemajuan pembangunan di Indonesia. Budaya tradisional pun tersisih dengan perlahan. Kebudayaan betawi sebagai akar peradaban awal kota Jakarta  menjadi salah satu contoh bagaimana modernisasi menyingkirkan kebudayaan yang telah ada berabad-abad. Beragam cara diusahakan untuk mempertahankan budaya asli Jakarta salah satunya perkampungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=177&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"></span></h3>
<p style="text-align:justify;">JAKARTA — Seiring waktu berjalan,Jakarta telah berevolusi menjadi sebuah kota modern dengan beragam simbol kemajuan pembangunan di Indonesia. Budaya tradisional pun tersisih dengan perlahan. Kebudayaan betawi sebagai akar peradaban awal kota Jakarta  menjadi salah satu contoh bagaimana modernisasi menyingkirkan kebudayaan yang telah ada berabad-abad.</p>
<p style="text-align:justify;">Beragam cara diusahakan untuk mempertahankan budaya asli Jakarta salah satunya perkampungan budaya betawi yang berlokasi di Jalan Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Perkampungan budaya betawi merupakan sebuah tempat untuk melestarikan budaya betawi agar tidak punah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tadinya direncanakan ada tiga tempat yang diusulkan yakni daerah Rorotan, Jakarta Utara. Kemayoran, Jakarta Pusat dan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan,”ujar Indra Sutisna kepada Republika Online, Sabtu (25/10). Kemudian dipilihlah Srengseng Sawah sebagai pusat perkampungan Betawi dengan pertimbangan kondisi alam yang masih asli dan kemudian terdapat banyak penduduk asli Betawi.<span id="more-177"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan SK Gubernur No.92/2000 Srengseng Sawah ditetapkan  menjadi pusat perkampungan betawi dengan luas 165 hektar. <span lang="DE">Dengan perincian 65 hektar milik Pemda DKI Jakarta dan 100 hektar milik masyarakat. Kemudian berdasarkan Perda wilayah menjadi diperluas menjadi 289 hektar dengan perincian 65 hektar milik Pemda dan 224 hektar milik masyarakat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">“Bukan berarti orang Betawi disini seperti orang aborigin yang tidak boleh maju dan sekolah tinggi,”tegas Indra. Masyarakat disini beraktivitas seperti keadaan perkampungan pada umumnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Dia menambahkan,masyarakat disini dilibatkan sebagai pemain bukan penonton. Bukanpula objek melainkan subjek. Perkampungan juga memiliki lembaga administratif seperti RT,RW, karang taruna, Majelis Taklim dan organisasi masyarakat lainnya.”Tapi sekali lagi perkampungan ini milik bersama warga jakarta dan semua punya kewajiban sama,”tegasnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Serangkaian aktifitas keseharian masyarakat betawi  dapat dijumpai seperti pembuatan minuman tradisional bir pletok, Pembuatan dodol, laksa, kerak telor dan kegiatan tradisional lain.”Setiap hari Sabtu-Minggu diadakan pergelaran kesenian betawi seperti lenong, gambang kromong, dan sebagainya dari pukul 14.00-17.00 WIB,” ujarnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Selain budaya dan keramahtamahan penduduk,potensi alam juga menjadi daya tarik tersendiri perkampungan ini dengan adanya dua setu alami yakni : Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong yang dikelilingi pohon-pohon buah khas betawi seperti Kecapi,Sawo dan Namnam. Penampilan rumah tradional Betawi turut menambah kental nuansa tradisional.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Dengan hanya membayar tiket seharga dua ribu rupiah wisata budaya, Agro dan air dapat dinikmati sekaligus.Tak jarang para peneliti,pelajar dan mahasiswa mengunjungi tempat ini untuk mempelajari kebudayaan betawi sekaligus mencari hiburan. Untuk kunjungan lama (penelitian dan edukatif) disediakan sekitar 67 rumah adat untuk menetap.”Kami tidak melihat jumlah pengunjung menjadi tujuan tapi lebih kepada pembelajaran terhadap masyarakat yang datang untuk lebih mengerti masalah budaya,”ungkapnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sudah barang tentu, perkampungan budaya betawi bisa  menjadi alternatif tempat rekreasi dan edukasi warga Jakarta maupun luar jakarta untuk mengenal lebih dekat sebuah kebudayaan.Cr2/kp</span></p>
<p style="text-align:justify;">sumber : Republika Online</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniabelajar137.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniabelajar137.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniabelajar137.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniabelajar137.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniabelajar137.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniabelajar137.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniabelajar137.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniabelajar137.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniabelajar137.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniabelajar137.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniabelajar137.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniabelajar137.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniabelajar137.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniabelajar137.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=177&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/denyut-betawi-di-srengseng-sawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0ee3025109d6fa73ad46f66215833ad0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duniabelajar137</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sederhana Seperti Apa?</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/sederhana-seperti-apa/</link>
		<comments>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/sederhana-seperti-apa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 16:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniabelajar137</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniabelajar137.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Sederhana itu tricky. –Budi Warsito Ada dua buku yang secara khusus membicarakan sederhana. Pertama ialah The 7 Laws of Happiness (Arvan Pradiansyah) dan Simplify Your Working Life (Fergus O’Connell). Kedua orang itu menggunakan sederhana sebagai hukum, bahkan merupakan ajaran moral yang sepatutnya dipatuhi, karena dari sanalah hakikat masalah bisa dilihat. Ibaratnya, sederhana adalah atom, inti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=174&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sederhana itu tricky.<br />
–Budi Warsito</p>
<p style="text-align:justify;">Ada dua buku yang secara khusus membicarakan sederhana. Pertama ialah The 7 Laws of Happiness (Arvan Pradiansyah) dan Simplify Your Working Life (Fergus O’Connell). Kedua orang itu menggunakan sederhana sebagai hukum, bahkan merupakan ajaran moral yang sepatutnya dipatuhi, karena dari sanalah hakikat masalah bisa dilihat. Ibaratnya, sederhana adalah atom, inti sesuatu–minus penemuan bahwa atom pun ternyata masih punya unsur lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Arvan Pradiansyah dengan tegas menyatakan bahwa sederhana ialah kemampuan menemukan inti masalah; sementara Fergus O’Connell–terutama dalam konteks kerja dan karir–menekankan bahwa yang pertama-tama harus dilakukan untuk bekerja cerdas ialah orang harus menemukan cara kerja paling sederhana. Menurut Tujuh Hukum Bahagia Arvan, sederhana merupakan poin ketiga rahasia mencapai hidup bahagia. Penulis lain, Jack Foster dalam buku Ideaship juga mengamini pendirian seperti itu, baik dalam konteks karir maupun kepuasan pribadi.<span id="more-174"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di dunia seni, ada aliran kubisme dan abstrak ekspresionisme yang sangat menjunjung luhur-luhur makna sederhana. Bagi penganutnya, alam ini bisa diabstraksi menjadi garis, bujur sangkar, lingkaran, segi tiga, dan bentuk-bentuk dasar lain, sehingga itulah yang mereka geluti. Bila kita perhatikan dari lukisan Pablo Picasso atau Piet Mondrian, bentuk-bentuk dasar itu begitu dominan, meski setelah jadi, di tangan mereka lukisan itu menjadi sesuatu yang kompleks, harmonis, sekaligus kabur dan penuh luapan perasaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dunia arsitektur (Ludwig Mies van der Rohe) dan sastra (Robert Browning) sama-sama punya adagium yang membuat mereka begitu terkemuka, yaitu: Less is more (sedikit itu lebih bagus.) Di ranah ekonomi juga begitu; E. F. Schumacher (1911 &#8211; 1977), pemikir ekonomi Inggris kelahiran Jerman, sangat sering dikutip pemikir ekonomi <span class="yshortcuts">Indonesia</span> karena menulis buku dengan judul sangat provokatif: Small is Beautiful (kecil itu indah.)</p>
<p style="text-align:justify;">Di dunia gerakan, filsafat, apalagi agama, begitu banyak orang yang mati-matian menekankan pentingnya sederhana. <span lang="DE">Perhatikan gerakan sederhana dan damai yang dilakukan Gandhi, Martin Luther King, Jr., Mandela, Aung San Suu Kyi, juga Lech Walesa. Jangan lupa juga dengan tokoh bersahaja yang datang lebih dulu: Henry David Thoreau, Isa Al-Masih, Francis <span class="yshortcuts">Assisi</span>, dan lain-lain. Orang Muslim biasanya suka mengagung-agungkan kesederhanaan pahlawan mereka–antara lain Muhammd Saw, Ali bin Abi Thalib, Imam Khomeini, dan sekarang Ahmed Dinejad–sebagai orang yang betul-betul sederhana.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sekarang, anggaplah kita beriktikad kuat mau melakukan hal serupa karena kita sudah lama terpesona oleh kesederhanaan. Apa yang seharusnya kita lakukan?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pertama-tama, mungkin kita langsung berpendapat bahwa sederhana berbeda dengan miskin. Baiklah, saya setuju. Semua orang yang paling kaya pun konon bisa sederhana–katakanl ah seperti Warren Buffett. Boleh jadi pendapat kita tentang sederhana sebenarnya menunjukkan bahwa kita keberatan dengan hidup sederhana versi Isa Al-masih dan Gandhi. Kita ingin sederhana versi Buffett atau Bill Gates. Kita ingin sederhana yang kaya, bukan sederhana yang kere. Kita ingin meneladani sederhana yang mungkin lebih tepat dan kontekstual dengan dunia kini yang berkembang karena kapitalisme dan diikuti budaya konsumerisme.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Jadi, silakan definisikan sederhana Anda masing-masing, biar nanti kita bisa melanjutkan diskusi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Saya sendiri masih sulit mendefinisikan dengan persis sederhana yang ideal. Meski saya beriktikad sederhana, toh saya gagal berhenti mengumpulkan banyak barang yang boleh jadi tak saya butuhkan. Saya punya masih puluhan kaset, CD, bahkan ribuan buku, belasan potong baju dan celana. Dari sisi itu saja, saya jelas tidak sederhana, alias berlebihan. Untuk apa saya punya puluhan kaset, bila sebenarnya saya tidak menyetel kaset itu tiap saat? Untuk apa saya punya belasan potong baju dan celana, padahal kita bisa cukup punya 2 potong baju dan celana? Yaitu satu dipakai dan satunya lagi jadi cadangan? Kenapa harus punya cadangan belasan potong?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Dalam beberapa hal barangkali saya boleh dibilang sederhana. </span>Misalnya, saya punya satu istri. <span class="yshortcuts">Itu</span> masih cukup. Kacamata saya juga cuma satu. HP saya satu, begitu juga dengan rumah, televisi, rapido, earphone, dan kulkas. Dulu saya punya cd player dan walkman; tapi sekarang sudah dijual. Dulu saya hanya punya satu flash disk; tapi akhirnya dihadiahi 2 flash disk oleh dua institusi, kini saya jadi punya tiga.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena tidak punya mobil, motor dan ipod; bolehkah saya mengklaim diri saya sederhana? Mungkin Anda langsung protes, eits, tunggu dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata dengan contoh saya saja, sungguh sulit menyatakan dan melakoni hidup sederhana. <span lang="DE">Bila saya bersikeras mengatakan hidup sederhana dengan makan di warteg murahan, mungkin orang-orang akan tertawa sinis. Itu bukan sederhana, itu pelit dan cari penyakit. Perhatikan dong bahan makanannya, cara memasaknya, zat-zat yang digunakannya, kualitas bumbu yang mereka cecerkan. Alih-alih sederhana, kamu akan lebih cepat mati dan penyakitan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setahu saya, orang sederhana nggak takut mati.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Bila tiba waktunya–entah karena sudah waktunya atau karena jotosan preman–orang pasti melepas nyawa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kini ibu-ibu pada ramai menggunakan bahan makanan organik, yang menurut saya harganya lebih mahal. Kalau saya bilang, sederhana saja, pilihlah yang lebih murah, mereka akan berkata sengit: “Yang organik itu lebih sehat, akan bikin kita lebih panjang umur, tambah fit, mencegah penyakit, dan segudang khasiat lain.” Segera saya bingung, bukankah yang sederhana itu lebih baik? Kalau kamu ditakdirkan sehat dan panjang umur, mungkin dengan makan akar-akaran dari hutan juga kamu tetap sehat wal afiat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kegagalan melaksanakan hidup sederhana membuat saya berani menyatakan bahwa saya mengidap penyakit bernama: Didera Serba Kekurangan (DSK), dan entah bagaimana cara menyembuhkan atau menerapinya. Saya bahkan menganggap gejala penyakit ini malah harus dimaklumi alih-alih diperiksa. Buktinya ialah bahwa saya ternyata lebih bersemangat mengejar kekurangan tersebut, alih-alih mengurangi kebutuhan atau meminimalkan maupun terus-terus berperilaku dan memilih hidup bersahaja.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Katakanlah saya ingin merayakan satu dekade pernikahan dan ingin melangsungkannya dengan sederhana; apa yang seharusnya saya lakukan? Merayakan syukuran sendiri, dengan doa, atau memilih mengajak anak-istri ke warteg paling murahan di dekat rumah, atau ke restoran eksklusif yang hanya dikunjungi bila keuangan kita berlebihan atau pikiran sedang nggak waras? Semua jawaban tampak salah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Semua orang saya yakin akan bilang, “Sederhana itu tidak berarti kamu harus merayakan hari pernikahan di warteg. Pilihan di restoran steak terkemuka malah lebih baik, karena itu hari istimewa kamu! Kalau kamu merayakan di warteg, ketahuan betapa pelit kamu pada keluarga!” Entah kenapa jawaban itu membuat saya merasa gagal jadi orang sederhana. Saya pikir, apa bedanya makan di warteg dan restoran, kalau kita bisa merasakan nikmat dan kenyang dengan kualitas setara? Orang-orang yang tahu apa arti bahan makanan bagi tubuh dan selera jelas menolak jawaban ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Iktikad hidup sederhana makin tambah runyam, mendapat tantangan dan ledekan karena kita kini mengenal hasrat bernama konsumerisme. Baru-baru ini saya sekeluarga membela terus-menerus belanja di satu pasar swalayan karena bila belanja dengan nilai tertentu akan mendapat satu kupon yang setelah berjumlah 45 lembar bisa ditukar dengan boneka anjing atau kucing. Bayangkan! Hancur sudah niat sederhana saya karena menuruti iming-iming konsumerisme. Saya membelanjakan uang bukan demi kebutuhan yang benar-benar sulit dihindari, melainkan karena ada pamrih lain di sana. Ternyata cukup mudah menipu keinginan massa. Kelakuan saya itu persis Ilalang (anak saya) yang selalu mengambil snack atau barang lain disertai hadiah di dalamnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Karena sederhana beda-beda bentuknya, kita akhirnya bingung akan memilih model mana atau akan membentuk sendiri citra sederhana seperti apa; dan akibatnya sederhana itu makin jauh dari diri kita, makin sulit diikuti, dan perlahan-lahan gantinya kita dipeluk makin erat oleh kebutuhan yang makin banyak dan menumpuk. Kata Arvan, kita makin kerepotan oleh hal remeh-temeh, tetek-bengek, trivia, alih-alih mencari yang hakikat. Persoalannya, bagaimana kita bisa menemukan yang hakikat bila kita kehilangan tujuan dan persoalan yang sebenarnya? Lama-lama sederhana menjadi sesuatu yang eksotik; ia indah, ideal, tapi terlalu jauh dan sukar untuk diraih dan dilaksanakan. Kenapa? Karena kita menganggap sederhana itu terlalu jauh dan sulit berkompromi dengan sebagian besar aspek hidup kita.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Akibatnya bisa diduga: gerakan hidup sederhana yang sejati kehilangan penganut, atau pelakunya terlalu sederhana untuk jadi orang terkemuka dan jadi panutan. Orang-orang yang boleh jadi sudah cukup kaya–katakanlah saya–masih saja mengeluh kekurangan, berkampanye hidup sederhana tetapi sulit membedakan mana hawa nafsu dan mana memenuhi kebutuhan paling dasar. Habis dia ketakutan bahwa hidup sederhana akan menghalanginya bisa menikmati espresso dan kopi Aroma.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sederhana mungkin makin sulit berkenan di hati kita semua, apalagi sekarang orang senantiasa menargetkan segala hal serba luar biasa, grandiose, harus semakin hebat. Cobalah kalau perusahaan tempat Anda menargetkan misi makin sederhana dan bos Anda meminta capaian lebih sederhana; mungkin Anda akan segera merasa masuk tempat ibadah, tempat para penceramah tiap Jumat atau Minggu meminta orang hidup tambah sederhana, jangan sampai terlena dunia, bersedekah lebih banyak–biar amplop yang dia terima tambah tebal. (Aih, Wartax, kayaknya kamu mudah berburuk sangka!)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ternyata sederhana beda-beda bentuknya, walaupun hakikatnya boleh jadi sama. Cerita-cerita hikmah tentang sederhana bisa berwujud sesuatu yang mengejutkan kita. Orang silakan saja bilang tentang gaya hidup sederhana namun toh itu tak menghalanginya menyelenggarakan perkawinan anaknya dengan biaya milyaran rupiah. Dengan begitu, sederhana seorang pejabat tinggi negara jelas beda dengan sederhana seorang pekerja out source; meskipun mereka sama-sama bisa berangkat kerja dengan sepeda atau jalan kaki. Baiklah, asal hakikatnya mereka temukan bersama.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kalau Anda membuka pintu rumah saya dan mendapati ruang tamu kami melompong tanpa meja-kursi– diganti hanya hamparan karpet abjad–mungkin Anda akan terkesan betapa sederhana rumah kami, sampai beberapa tamu terus-terusan berdiri karena merasa bingung harus duduk bagaimana. Boleh jadi kami sedang mempraktikkan less is more atau mode interior dengan furnitur minimalis; meski kenyataannya kami masih saja gagal mencari perabot yang pas, baik dengan bujet maupun kecilnya ruangan. Bandingkan bila Anda masuk ke Rumah Buku, tempat di sana terdapat sejumlah rak yang asli hanya berupa tumpukan batu-bata mengapit bilah papan (contoh gambar ada di halaman situs mereka), tanpa plesteran. Sangat sederhana dan alamiah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Lantas bandingkan dengan mode interior minimalis yang mungkin jadi pilihan kantor Anda atau rumah kenalan Anda, yang malah memancarkan sifat mewah, mahal, elegan namun tak terjangkau oleh orang dengan penghasilan sederhana. Anda masih mau bersikukuh bahwa itu semua benar-benar bentuk hidup sederhana? Ayolah, Anda harus berani bilang bahwa itu sudah melewati kodrat kesederhanaan, itu sudah berlebihan. Itu adalah bentuk “usaha keras agar sederhana” yang hasilnya justru luapan kemewahan berbalut pemborosan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Begitu dengan para politisi kita yang sedang kampanye ingin terpilih jadi anggota DPR-RI/D maupun pemimpin pemerintahan. Bagaimana cara kita–orang- orang yang terkadang terlampau sengit memandang politik–meminta agar sederhana di tengah tuntutan belanja kampanye yang begitu mahal? Bagaimana memberi esensi sederhana pada mereka? Kalau esensi menjadi politisi ialah bernegosiasi dengan orang jahat, memelihara perdamaian; maukah mereka mengalihkan dana kampanye yang jelas nggak tersalurkan pada orang miskin dan papa, untuk kesejahteraan sosial bersama-sama? Mari kita tantang mereka: Maukah kamu membagikan dana kampanye itu buat membangun fasilitas umum, membersihkan poster-poster dan spanduk vandal yang mereka pasang sendiri, yang mengotori tempat di mana-mana dan jadi sampah?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Akhirnya kita capek diskusi tentang sederhana, sebab munculnya malah debat seperti apa sederhana itu. Kita menyaksikan menemukan atau merumuskan sederhana ternyata persoalan besar; padahal boleh jadi kita tahu persis arti sederhana dalam persoalan ini. Kita cukup yakin bahwa sederhana bisa meningkatkan kualitas hidup, mengantarkan kita pada sesuatu yang lebih hakiki. Bahkan cukup yakin, siapa tahu sederhana mampu menghapus perbedaan yang terlalu mencolok antara orang kaya dan miskin, gaji yang begitu besar dan orang ngos-ngosan. Mungkin sederhana bisa menghilangkan rumah mewah, apartemen eksklusif, hotel berbintang sekaligus menghilangkan kawasan kumuh, slum, miskin, kotor, dan menjijikkan. Mungkin sederhana bisa mengurungkan niat orang bikin vila di pinggir pantai atau ujung tebing gunung perawan, dan mengalihkannya bagi gelandangan. Kalau sistem ekonomi kita sederhana, tentu perusahaan raksasa tak perlu menjalankan CSR, sebab mereka sudah bisa dengan<br />
waras membagi penghasilan kepada kaum miskin.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Hidup sederhana menghasilkan orang seperti Muhammad Yunus, film Not One Less, lagu Yellow, lukisan abstrak ekspresionisme, orang yang memilih sendal jepit. Bahkan mungkin, teknologi canggih yang kita gunakan muncul dari ide sederhana. Bahkan lahir puisi karya Sapardi Djoko Damono dengan bait pertama sangat kuat: “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sederhana itu sublim.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau begitu, memang tugas kita harus menemukan sederhana sendiri-sendiri, yakni sederhana yang polos,  meskipun boleh jadi tricky.[]</p>
<p style="text-align:justify;">Anwar Holid, trying hard to be simple. <span lang="DE">Dia eksponen TEXTOUR, Rumah Buku <span class="yshortcuts">Bandung</span>. </span>Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @ <a href="http://halamanganjil.blogspot.com./" target="_blank">http://halamanganji l.blogspot. com.</a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniabelajar137.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniabelajar137.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniabelajar137.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniabelajar137.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniabelajar137.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniabelajar137.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniabelajar137.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniabelajar137.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniabelajar137.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniabelajar137.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniabelajar137.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniabelajar137.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniabelajar137.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniabelajar137.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=174&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/sederhana-seperti-apa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0ee3025109d6fa73ad46f66215833ad0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duniabelajar137</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>*FINANCIAL FREEDOM* ala Tukang Becak vs Howard Schultz (Starbucks)</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/financial-freedom-ala-tukang-becak-vs-howard-schultz-starbucks/</link>
		<comments>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/financial-freedom-ala-tukang-becak-vs-howard-schultz-starbucks/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 16:07:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniabelajar137</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kewirausahaan dan UKM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniabelajar137.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[THINK OUT OF THE BOX !* Perbedaannya akan bagaikan langit dan bumi. Berapa besar space yang ada “di dalam box” tsb ? Relatif. Berapa besar space yang ada “di luar box” tsb.? WOW! No Limit. Coba kita lupakan segenap teori canggih dunia entrepreneurship (ttg modal usaha, skill, keberanian untuk memulai usaha, dst,dst). Sementara banyak orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=172&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="font-size:12pt;"></span></h3>
<p>THINK OUT OF THE BOX<strong> </strong>!*</p>
<p><span lang="DE">Perbedaannya akan bagaikan langit dan bumi.<br />
Berapa besar space yang ada “di dalam box” tsb ? </span>Relatif.<br />
Berapa besar space yang ada “di luar box” tsb.? WOW! No Limit.</p>
<p>Coba kita lupakan segenap teori canggih dunia entrepreneurship (ttg modal<br />
usaha, skill, keberanian untuk memulai usaha, dst,dst). Sementara banyak<br />
orang yang masih harus bergelut dalam kesibukan bisnis setiap hari setelah<br />
10 tahun berbisnis, mari kita simak kisah ilustrasi seorang TUKANG BECAK<br />
tamatan SD yang sudah mencapai “financial freedom” setelah bekerja hanya<br />
lebih kurang 5 tahun saja, dgn “passive income”<br />
Rp.9 juta/bulan!! !<span id="more-172"></span></p>
<p>Becak ke-1 :<br />
==&gt; Seorang tukang becak memiliki becak motor dengan penghasilan bersih<br />
Rp. 60,000/hari (bekerja dari pagi hingga larut malam). Biaya hidupnya<br />
sekitar Rp.30,000/hari. Lalu ia berjuang utk konsisten menabung<br />
Rp.30,000/hari. Dalam tempo 400 hari, ia mampu membeli becak kedua yang<br />
harganya Rp.12 juta/unit.</p>
<p>Becak Ke-2 :<br />
==&gt; Ia sewakan becak keduanya dengan tarif Rp. 30,000/hari. Sementara ia<br />
tetap menarik becak pertamanya. Sekarang ia bisa menabung Rp 60,000/hari.<br />
Dalam tempo 200 hari, ia mampu membeli becak ketiga.</p>
<p>Becak Ke-3 :<br />
==&gt; Ia sewakan becak ketiganya, sehingga sekarang ia mampu menabung<br />
Rp 90,000/hari. Dalam tempo 134 hari, ia membeli becak ke-4.</p>
<p>Becak Ke-4 :<br />
==&gt; Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp.120,000<br />
/hari. Dalam tempo 100 hari, ia membeli becak baru lagi.</p>
<p>Becak Ke-5 :<br />
==&gt; Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 150,000<br />
/hari. Dalam tempo 80 hari, ia membeli becak baru lagi.</p>
<p>Becak Ke-6 :<br />
==&gt; Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 180,000<br />
/hari. Dalam tempo 67 hari, ia membeli becak baru lagi.</p>
<p>Becak Ke-7 :<br />
==&gt; Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 210,000<br />
/hari. Dalam tempo 57 hari, ia membeli becak baru lagi.</p>
<p>Becak Ke-8 :<br />
==&gt; Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 240,000<br />
/hari. Dalam tempo 50 hari, ia membeli becak baru lagi.</p>
<p>Becak Ke-9 :<br />
==&gt; Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 270,000<br />
/hari. Dalam tempo 45 hari, ia membeli becak baru lagi.</p>
<p>Becak Ke-10 :<br />
==&gt; Ia sewakan becak tsb, sehingga sekarang ia mampu menabung Rp. 300,000<br />
/hari. Dalam tempo 40 hari, ia membeli becak baru lagi.</p>
<p>Setelah becak ke-10, ia berhenti menarik becak. Ia sewakan becak Pertamanya<br />
ke orang lain. Ia lalu menggaji seorang “mandor” untuk mengurusi ke-10<br />
becak- nya.<br />
Ia PENSIUN. Kini ia menikmati penghasilan Rp. 300,000/hari, atau Rp. 9<br />
juta/bulan<br />
(sebelum potong gaji sang mandor). Jika ditotal semua usahanya tsb hanya<br />
dicapai<br />
dalam tempo 3,2 TAHUN SAJA.</p>
<p><span lang="DE">============ =======</span></p>
<p><span lang="DE">Tentu saja ini cuma sebuah ilustrasi, dengan menarik garis lurus dari sebuah<br />
bisnis. Katakanlah dalam tempo 10 tahun (bukan 3,2 tahun seperti dalam<br />
ilustrasi), sang TUKANG BECAK mampu mencapainya. Ini LOGIS, dan bisa<br />
terjadi. Berapa banyak TUKANG BECAK di dunia yang seperti itu? Mungkin 1<br />
banding 10 juta. Tetapi ADA . Berapa banyak TUKANG BECAK di dunia yang<br />
menjadi tukang becak seumur hidupnya dan terus hidup susah? Buanyyaaak<br />
sekali.</span></p>
<p><span lang="DE">============ =========</span></p>
<p><span lang="DE">Sekarang bandingkan dengan banyak profesional tamatan S1 ataupun S2, atau<br />
bandingkan dengan para pengusaha yang masih harus bergelut dengan kesibukan<br />
mencari nafkah setiap hari. </span>Kontras sekali bukan….</p>
<p>THINK OUT OF THE BOX.</p>
<p>Perbedaannya akan bagaikan langit dan bumi.<br />
Kunci kesuksesannya terletak pada “duplikasi”.<br />
Ini rahasianya : “Jalankan bisnis yang mudah diduplikasikan, dan tidak perlu<br />
keterlibatan kita secara penuh dalam bisnis tsb.”<br />
Contoh : Ikuti bisnis franchise yang berpotensi, beli asset lalu sewakan<br />
asset tsb, dst.</p>
<p>KUNCI UTAMA LAINNYA adalah :<br />
Hidup hemat pada awalnya untuk menabung, uang tabungan di-investasikan untuk<br />
menghasilkan uang, lakukan terus berulang2, setelah penghasilannya sudah<br />
cukup besar, barulah menuai hasil berkelanjutan.</p>
<p><span lang="DE">============ =========</span></p>
<p><span lang="DE">Mari berhitung matematika …</span></p>
<p><span lang="DE">Jika Anda diberikan 2 option kontrak kerja / kontrak bisnis berikut ini,<br />
mana yang Anda pilih?</span></p>
<p><span lang="DE">1). Kontrak 2 tahun, tidak dpt dibatalkan, penghasilan/ bulan Rp.100 juta.<br />
2). Kontrak 2 tahun, tidak dpt dibatalkan, penghasilan di bulan pertama<br />
Cuma Rp. 1000, tapi berlipat dua setiap bulan.</span></p>
<p>Pilih mana ????</p>
<p>Jawabannya :</p>
<p>Option I : Penghasilan Rp. 100 juta/bln x 24 bln = Rp.2,4 Milyar</p>
<p><span lang="DE">Option II :<br />
Bulan ke-1 : Rp. 1000<br />
2. </span>2000<br />
3. 4000<br />
4. 8000<br />
5. 16,000<br />
6. 32,000<br />
7. 64,000<br />
8. 128,000<br />
9. 256,000<br />
10. 512,000<br />
11. 1,024,000<br />
12. 2 juta<br />
13. 4 juta<br />
14. 8 juta<br />
15. 16 juta<br />
16. 32 juta<br />
17. 64 juta<br />
18. 128 juta<br />
19. 256 juta<br />
20. 512 juta<br />
21. 1 milyar<br />
22. 2 milyar<br />
23. 4 milyar<br />
24. 8 milyar</p>
<p>Jika Anda pilih option I, Anda kecolongan hampir 6 MILYAR!!!</p>
<p><span lang="DE">Kita hanya diajari oleh guru di sekolah tentang teori2 Albert Eintein<br />
seperti rumus kekuatan bom atom spt “E=MC2″, dst. Tetapi tidak diajarkan<br />
bahwa “kekuatan duplikasi” juga dikagumi oleh Albert Eintein, ilmuwan paling<br />
cemerlang abad 20, ia mengatakan “Kekuatan duplikasi adalah keajaiban dunia<br />
ke delapan.”</span></p>
<p>============ ========= ==</p>
<p>FINANCIAL FREEDOM ALA HOWARD SCHULTZ (pemilik Starbucks)</p>
<p>Bayangkan seorang pengusaha jenius sekaliber Schultz (ia baru dijuluki<br />
pengusaha<br />
jenius setelah sukses, tetapi saat pertama kali menawarkan ide bisnis<br />
menjual segelas kopi seharga puluhan ribu rupiah, ia diteriakin GILA dan<br />
ditolak ratusan orang).</p>
<p>Ia mampu mengubah produk komoditas murah (kopi) menjadi produk eksklusif<br />
(customer-experienc e) berharga luar biasa mahal. Ia pandai pula Mendapatkan<br />
dana segar nan murah melalui GO PUBLIC. Ia pandai pula memanfaatkan media<br />
sebagai “public relation” untuk mempromosikan Starbucks. Ia pandai pula<br />
membangun partnership dgn perusahaan global seperti Pepsi, dst.</p>
<p>Hasilnya LUAR BIASA. Dengan kekuatan “KONSEP DUPLIKASI”, kedai kopi pertama<br />
yang dibangun Schultz tahun 1985, menjelma menjadi lebih dari 10,000 toko<br />
di tahun 2006, tersebar di seluruh dunia. <span lang="DE">Dan terus berlipat GANDA setiap<br />
tahun sampai sekarang…. .</span></p>
<p><span lang="DE">Schultz lalu memutuskan untuk PENSIUN. Di tahun 2000, ia menggaji seorang<br />
“mandor” utk mengurus jaringan Starbucks nya di seluruh dunia. Tentu saja<br />
sang mandor disebut dengan istilah keren “CEO” bernama Orin C. Smith.</span></p>
<p>Baik sang TUKANG BECAK maupun SCHULTZ sama2 mencapai “financial freedom”.<br />
Yang satu pencapaiannya hanya kelas regional, yang satu lagi kelas<br />
dunia……<br />
Sedangkan milyaran penduduk dunia tidak pernah mencapai “financial<br />
freedom” walaupun hanya di kelas regional saja….</p>
<p>============ ======</p>
<p>Bila sang TUKANG BECAK tamatan SD mampu melakukannya, seorang tamatan S1<br />
secara logika pasti bisa melakukannya dengan hasil 3 kali lipat lebih banyak<br />
(SD ke S1 kan ada 3 tahap, yakni SMP, SMU, baru Universitas) . Mari kita<br />
ambil hikmahnya. Seandainya salah satu dari kita bisa Memanfaatkan hikmah<br />
tsb dgn TAKE ACTION, semoga financial freedom bisa tercapai dalam 5 tahun<br />
mendatang… .<br />
(Inspired from Bisnis center@yahoogroups)</p>
<p class="MsoNormal">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniabelajar137.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniabelajar137.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniabelajar137.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniabelajar137.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniabelajar137.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniabelajar137.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniabelajar137.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniabelajar137.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniabelajar137.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniabelajar137.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniabelajar137.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniabelajar137.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniabelajar137.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniabelajar137.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=172&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/financial-freedom-ala-tukang-becak-vs-howard-schultz-starbucks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0ee3025109d6fa73ad46f66215833ad0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duniabelajar137</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kumis Kucing untuk Menyelamatkan Hutan</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/kumis-kucing-untuk-menyelamatkan-hutan/</link>
		<comments>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/kumis-kucing-untuk-menyelamatkan-hutan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 15:53:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniabelajar137</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide Pembangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniabelajar137.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 5 Maret 2009 &#124; 04:16 WIB Konservasi baru bisa berjalan jika ada manfaatnya buat masyarakat sekitar. Tak ada gunanya berteriak-teriak soal pentingnya konservasi jika manfaatnya tidak dapat dirasakan masyarakat. Itulah yang disadari betul pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. ”Manfaat dalam ukuran masyarakat, termasuk di dalamnya secara ekonomi,” kata Kepala Balai Besar Taman Nasional [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=168&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span class="tglct"><span lang="DE">Kamis, 5 Maret 2009 | 04:16 WIB</span></span><span lang="DE"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--l version="1.0" encoding="UTF-8--><span lang="DE">Konservasi baru bisa berjalan jika ada manfaatnya buat masyarakat sekitar. Tak ada gunanya berteriak-teriak soal pentingnya konservasi jika manfaatnya tidak dapat dirasakan masyarakat. Itulah yang disadari betul pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">”Manfaat dalam ukuran masyarakat, termasuk di dalamnya secara ekonomi,” kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Sumarto, di kantornya di Cibodas, Jawa Barat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Selama ini ada sekitar 340 keluarga yang memanfaatkan lahan di sekitar hutan untuk berbagai jenis tanaman hortikultura serta sayur-mayur.<span id="more-168"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pemanfaatan flora yang jauh lebih diharapkan sebenarnya dari produksi tanaman liar yang tumbuh di sela vegetasi dan bernilai ekonomis tinggi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah berdiskusi dan menjalin kerja sama dengan sejumlah kalangan, akhirnya dilakukan budi daya kumis kucing (Orthosiphon spp) yang bernilai tinggi. Tanaman ini secara tradisional dikenal berkhasiat menghilangkan reumatik, kencing manis, ginjal, batuk, encok, albuminuria, dan penyakit kelamin.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ternyata, tanaman yang dikenal dengan nama remujung atau songot koneng ini pun laku diekspor. </span>Harganya cukup tinggi, yakni kumis kucing kering sekitar 2,4 dollar AS per kilogram atau sekitar Rp 30.000 per kilogram. Ekspor perdana dilakukan ke Perancis.</p>
<p style="text-align:justify;">”Dari permintaan 14 ton per bulan, kami baru sanggup melakukan pengiriman tujuh ton per bulan,” kata</p>
<p style="text-align:justify;">Hendaru Djumantoro, salah seorang pendamping masyarakat di TNGGP.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena diuntungkan secara ekonomis dengan tanaman kumis kucing, masyarakat juga tidak tertarik untuk menebang kayu hutan atau membuka lahan baru guna tanaman holtikultura.</p>
<p style="text-align:justify;">Beragam jenis flora lainnya, menurut Hendaru, juga berpotensi menjadi komoditas ekspor untuk menunjang produksi obat-obatan serta bahan-bahan kosmetik herbal. ”Ini menjadi tren bagi dunia, tetapi risetnya masih minim,” ujarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Indonesia sebenarnya kaya akan berbagai jenis tanaman obat berkhasiat. Berbagai jenis tanaman paku atau pakis (Cyathea latebrosa, Cyathea contaminas, Cyathea tomentosa, Dicksonia blumei), getahnya memiliki manfaat sebagai obat luka gores.<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mikrohidro</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TNGGP saat ini juga sedang mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dengan memanfaatkan aliran air yang melimpah di sekitar Gunung Gede Pangrango. Pada tahap awal, selokan kecil di depan Kantor TNGGP dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik yang bisa menghasilkan listrik 2.000 watt dan akan ditingkatkan menjadi 15.000 watt. <span lang="DE">Masyarakat sekitar juga akan bisa menikmati manfaatnya karena tak perlu lagi mengandalkan listrik dari PLN.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">”Secara tidak langsung, masyarakat juga diajak untuk melakukan konservasi agar air yang menjadi sumber tenaga listrik terus mengalir,” kata Agus Wiwianto dari Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL) yang menjadi rekanan pengoperasian turbin mikrohidro TNGGP.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sumber : Kompas Cetak</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniabelajar137.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniabelajar137.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniabelajar137.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniabelajar137.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniabelajar137.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniabelajar137.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniabelajar137.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniabelajar137.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniabelajar137.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniabelajar137.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniabelajar137.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniabelajar137.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniabelajar137.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniabelajar137.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=168&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/kumis-kucing-untuk-menyelamatkan-hutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0ee3025109d6fa73ad46f66215833ad0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duniabelajar137</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malaysia Buktikan Evolusi Politik Lewat Teknologi Informasi</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/malaysia-buktikan-evolusi-politik-lewat-teknologi-informasi/</link>
		<comments>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/malaysia-buktikan-evolusi-politik-lewat-teknologi-informasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 15:49:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniabelajar137</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide Pembangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniabelajar137.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[teknologi informasi dan komunikasi dalam berkampanye dan menyampaikan pesan oleh partai oposisi di Malaysia telah mendatangkan kemenangan bagi kelompok minoritas. Menurut Ibrahim Suffian, peneliti lembaga jajak pendapat Malaysia, Merdeka Center, penggunaan TIK oleh partai oposisi telah menyebabkan partai Barisan Nasional, yang berkuasa sejak tahun 1957, kehilangan 2/3 kursi di Parlemen pada Pemilu Malaysia 2008, serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=166&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-family:&quot;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">teknologi informasi dan komunikasi dalam berkampanye dan menyampaikan pesan oleh partai oposisi di Malaysia telah mendatangkan kemenangan bagi kelompok minoritas. Menurut Ibrahim Suffian, peneliti lembaga jajak pendapat Malaysia, Merdeka Center, penggunaan TIK oleh partai oposisi telah menyebabkan partai Barisan Nasional, yang berkuasa sejak tahun 1957, kehilangan 2/3 kursi di Parlemen pada Pemilu Malaysia 2008, serta memaksa PM Abdullah Badawi lengser pada bulan Maret 2009.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Oposisi tampaknya lebih siap dan lebih berhati-hati melakukan pendekatan melalui internet,” ujar Ibrahim saat menyampaikan presentasinya yang berjudul, Pemilu dan Kampanye Online, Keberhasilan Internet dalam Pemilihan Umum Malaysia 2008, Senin (1/12) malam di Hotel Santika, Jakarta. Acara ini merupakan kerja sama antara Friedrich Naumann Stiftung dan Lembaga Survei Indonesia.<span id="more-166"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Oposisi, misalnya, menggunakan teknologi SMS dalam menyebarkan pesan-pesannya kepada masyarakat. Satu minggu sebelum melakukan demonstrasi besar-besaran pada tanggal 10 November 2007, koalisi partai politik oposisi dan masyarakat madani (BERSIH) mengirimkan pesan singkat kepada masyarakat, yang isinya menghimbau mereka agar berpartisipasi dalam aksi menuntut diadakannya reformasi dalam pemilihan umum. Hasilnya, sekitar 40.000-60.000 warga berdatangan dan beraksi di depan istana raja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Selain itu, mereka juga menggunakan jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, dan bahkan YouTube, karena parpol oposisi tidak diberikan akses ke jaringan televisi utama. Mereka mengandalkan situs-situs tersebut untuk menayangkan pidato-pidato. Selain itu, mereka juga memasukkan video-video klip yang dapat merugikan partai berkuasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Salah satu yang sangat populer ialah video klip yang memperlihatkan PM Malaysia Abdullah tertidur di berbagai peristiwa publik,” ujar Ibrahim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Tidak lupa, kelompok oposisi juga melakukan distribusi informasi melalui keping CD. Kelompok oposisi HINDRAF (Human Rights Action Force &#8211; Kekuatan Aksi Hak Hindu) misalnya, memperlihatkan video penghancuran kuil-kuil Hindu, dan rumah penduduk keturunan India oleh penguasa lokal Malaysia sebelum pemilu 2008. Video tersebut didistribusikan dalam bentuk kepingan CD.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Video tersebut berhasil mengobarkan emosi pemilih dan memastikan masyarakat tidak memilih partai Barisan Nasional,” kata Ibrahim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Berdasarkan penelitian yang dilakukan Merdeka Center pascapemilu, 90 persen warga Malaysia mengetahui informasi mengenai pemilu dari media utama, seperti televisi. Namun, dua pertiga di antaranya juga memiliki akses ke sumber-sumber informasi sekunder dan alternatif seperti internet, brosur, CD, dan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Evolusi nilai-nilai politik Malaysia sepertinya akan berlangsung semakin cepat, sejalan dengan semakin tersedianya informasi bagi publik,” kata Ibrahim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Di Indonesia, akses informasi kepada publik sudah bebas diakses melalui suratkabar, radio, televisi, dan media lainnya. Teknologi informasi khususnya Internet seharusnya menghasilkan gebrakan baru dalam dunia politik Indonesia pada puncak pesta demokrasi 2009.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="DE">HIN</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="DE"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Sumber : Kompas Tekno edisi 1 desember 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniabelajar137.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniabelajar137.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniabelajar137.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniabelajar137.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniabelajar137.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniabelajar137.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniabelajar137.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniabelajar137.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniabelajar137.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniabelajar137.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniabelajar137.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniabelajar137.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniabelajar137.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniabelajar137.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=166&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/malaysia-buktikan-evolusi-politik-lewat-teknologi-informasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0ee3025109d6fa73ad46f66215833ad0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duniabelajar137</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gerakan Bank Sampah dari Bantul</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/gerakan-bank-sampah-dari-bantul/</link>
		<comments>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/gerakan-bank-sampah-dari-bantul/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 15:47:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniabelajar137</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide Pembangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniabelajar137.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Setiap pukul 16.00, antrean nasabah bank sampah biasanya sudah panjang. Mereka bukannya menanti giliran menyetor uang seperti di bank pada umumnya, melainkan sampah yang mereka kumpulkan selama dua hari. Meski yang disetorkan wujudnya tidak sama, pengelolaan bank sampah mirip dengan bank pada umumnya. Setiap nasabah datang dengan tiga kantong sampah berbeda. Kantong I berisi sampah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=164&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong></strong><span style="font-family:&quot;">Setiap pukul 16.00, antrean nasabah bank sampah biasanya sudah panjang. Mereka bukannya menanti giliran menyetor uang seperti di bank pada umumnya, melainkan sampah yang mereka kumpulkan selama dua hari. Meski yang disetorkan wujudnya tidak sama, pengelolaan bank sampah mirip dengan bank pada umumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Setiap nasabah datang dengan tiga kantong sampah berbeda. Kantong I berisi sampah plastik, kantong II sampah kertas, dan kantong III berupa kaleng dan botol. Ketika menimbang sampah, nasabah akan mendapat bukti setoran dari petugas teller. Bukti setoran itu menjadi dasar penghitungan nilai rupiah sampah, yang kemudian dicatat dalam buku tabungan. Untuk membedakan, warna buku tabungan tiap RT dibuat berbeda.<span id="more-164"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Setelah sampah terkumpul banyak, petugas bank menghubungi tukang rosok. Tukang rosok memberi nilai ekonomi tiap kantong sampah milik nasabah. Catatan nilai rupiah itu lalu dicocokkan dengan bukti setoran dan kemudian dibukukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Harga sampah bervariasi bergantung pada klasifikasinya. </span><span style="font-family:&quot;">Kertas karton dihargai Rp 2.000 per kg, kertas arsip Rp 1.500 per kg. Sedangkan plastik, botol, dan kaleng harganya menyesuaikan ukuran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Tiap nasabah memiliki karung ukuran besar, yang tersimpan di bank untuk menyimpan seluruh sampah yang mereka tabung. Tiap karung diberi nama dan nomor rekening tiap nasabah. Tujuannya agar setiap tukang rongsok datang, petugas bank tidak kebingungan memilah tabungan sampah tiap nasabah. </span><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Karung- karung sampah itu tersimpan rapi di gudang bank.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Gemah Ripah</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="DE"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Bank Sampah Gemah Ripah, didirikan masyarakat Dusun Bandegan, Bantul, DI Yogyakarta, tiga bulan lalu. Kini jumlah nasabahnya 41 orang dari 12 RT di dusun tersebut. Pada tahap awal mereka masih membatasi diri untuk warga satu dusun, tetapi bila sudah memungkinkan nasabah tidak akan dibatasi asalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Tidak semua sampah disetor ke tukang rosok. Sebagian di antaranya, yakni jenis plastik sachet dan gabus, diolah sendiri oleh bank sampah. ”Plastik sachet kami hargai Rp 15 per sachet, sementara gabus bergantung pada ukuran,” ujar Ismiyati, koordinator daur ulang sampah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Plastik-plastik itu lalu diolah untuk membuat aneka aksesori rumah tangga, seperti tas, dompet, hingga rompi. Barang-barang tersebut dijual dengan harga Rp 20.000-Rp 35.000. ”Beberapa pembeli asing minta dikirim contoh barang. Kalau mereka setuju, pesanan yang kami terima akan menumpuk. Karenanya, stok bahan baku harus banyak. Kami sudah meminta warga untuk lebih aktif menabung sampah,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Sampah jenis gabus biasanya dibuat menjadi pot bunga, tempat dudukan bendera, atau perlengkapan rumah tangga lainnya. Gabus-gabus itu dicampur dengan pasir dan semen. ”Produksi dari bahan gabus pesananannya masih lokal saja,” kata Ismiyanti</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Menurut Panut Susanto, ketua pengelola bank sampah, sampah yang terkumpul tiap minggu mencapai 60-70 kg. Untuk sementara jam layanan bank dimulai pukul 16.00-21.00 tiap hari Senin-Rabu-Jumat. ”Kami baru bisa melayani pada sore hari karena sebagian besar petugas bank harus bekerja pada pagi hari,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Belum maksimalnya kinerja petugas karena mereka mengelola bank sampah tanpa dibayar. Artinya, mereka harus tetap bekerja untuk membiayai kehidupan keseharian. ”Apa yang kami kerjakan sifatnya masih sosial. Jadi, kami memang tidak mengharapkan upah karena kondisi bank belum maksimal,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Bank sampah memotong dana 15 persen dari nilai sampah yang disetor nasabah. Dana itu digunakan untuk membiayai kegiatan operasional, seperti fotokopi, pembuatan buku tabungan, dan biaya lainnya. ”Selama ini tidak ada nasabah yang keberatan. </span><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Kami harus melakukan pemotongan karena bank ini memang dikelola bersama-sama,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Berbeda dengan bank tempat nasabah bisa mengambil dana setiap saat, di bank sampah nasabah hanya bisa menarik dana setiap tiga bulan sekali. Tujuannya agar dana yang terkumpul bisa lebih banyak sehingga uang tersebut dimanfaatkan sebagai modal kerja atau keperluan yang bersifat produktif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">”Kalau dibebaskan, mereka bisa konsumtif. Baru terkumpul Rp 20.000-Rp 30.000 sudah tergiur untuk mengambil. Karena hanya tiga bulan sekali, mereka bisa menarik dana sampai Rp 100.000-Rp 200.000 bergantung pada banyaknya sampah yang ditabung,” kata Bambang Suwirda, penggagas bank sampah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-family:&quot;">Tersimpan</span></strong><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Menurut Bambang, dana kelolaan yang saat ini tersimpan tinggal Rp 500.000. Sebagian besar nasabah sudah mengambil saat Lebaran lalu. Untuk sementara, dana nasabah disimpan sendiri oleh pengelola bank. Ke depan, pengelola akan menjalin kerja sama dengan Bank Bantul untuk menyimpan dana nasabah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Para</span><span style="font-family:&quot;"> pengelola bank juga bertekad memperluas operasional bank agar tidak terbatas pada penyimpanan, tetapi juga peminjaman. ”Dalam konsep bank sampah, barang jaminan mungkin berupa sampah juga,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Fokus sampah yang dikumpulkan saat ini masih sebatas sampah anorganik. Ke depan, sampah organik juga akan diterima, yang selanjutnya diolah menjadi pupuk kompos.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Bagi para nasabah, keberadaan bank sangat membantu. Mereka bisa mendapat penghasilan tambahan sekaligus kebersihan lingkungan sekitar terjaga. ”Lumayanlah tiap bulan ada pemasukan tambahan. Hitung-hitung buat nambah dana belanja dapur,” kata Sutiyani, warga setempat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Bila gerakan bank sampah bisa meluas ke berbagai desa, masalah sampah bisa tertangani. Tak hanya itu, perekonomian masyarakat juga ikut membaik sehingga angka kemiskinan bisa ditekan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Di Bantul, produksi sampah per hari mencapai 614 meter kubik. Sayangnya, pemerintah daerah setempat belum berpikiran ke arah itu. </span><span style="font-family:&quot;">(ENY PRIHTIYANI)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Sumber : Kompas Cetak edisi 1 Desember 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniabelajar137.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniabelajar137.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniabelajar137.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniabelajar137.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniabelajar137.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniabelajar137.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniabelajar137.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniabelajar137.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniabelajar137.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniabelajar137.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniabelajar137.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniabelajar137.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniabelajar137.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniabelajar137.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=164&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/gerakan-bank-sampah-dari-bantul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0ee3025109d6fa73ad46f66215833ad0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duniabelajar137</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Gujarat, Membuat Ibu dan Bayi Panjang Umur</title>
		<link>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/belajar-dari-gujarat-membuat-ibu-dan-bayi-panjang-umur/</link>
		<comments>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/belajar-dari-gujarat-membuat-ibu-dan-bayi-panjang-umur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 15:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniabelajar137</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide Pembangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniabelajar137.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 28 November 2008 &#124; 01:18 WIB Evy Rachmawati Terik matahari terasa menyengat. Sejumlah warga tampak memasuki halaman Puskesmas Sanathal, Blok Sanand, Distrik Ahmedabad, Gujarat, India. Di atas bangku panjang, sejumlah perempuan yang mengenakan kain sari duduk menanti giliran diperiksa. Sebagian dari mereka tengah hamil. Satu per satu mereka ditangani oleh dokter spesialis kandungan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=162&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="tglct"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Jumat, 28 November 2008 | 01:18 WIB</span></span><span style="font-size:11pt;" lang="DE"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Evy Rachmawati</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="DE"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Terik matahari terasa menyengat. Sejumlah warga tampak memasuki halaman Puskesmas Sanathal, Blok Sanand, Distrik Ahmedabad, Gujarat, India. Di atas bangku panjang, sejumlah perempuan yang mengenakan kain sari duduk menanti giliran diperiksa. Sebagian dari mereka tengah hamil.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Satu per satu mereka ditangani oleh dokter spesialis kandungan dan kebidanan atau ginekolog. Mereka juga mendapat suplemen zat besi dan makanan penambah gizi. Semua layanan itu dapat dinikmati masyarakat miskin secara gratis, termasuk biaya persalinan dengan komplikasi yang ditangani tenaga kesehatan terlatih. Mereka malah diberi uang 200 rupee (setara Rp 50.000) oleh pemerintah setempat, 50 rupee di antaranya untuk transpor orang yang mengantar.<span id="more-162"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Hal itu merupakan bagian dari skema Chiranjeevi Yojana (seseorang hidup panjang umur) yang diluncurkan Pemerintah Gujarat, India, tahun 2005 dengan proyek percontohan di lima distrik. Skema ini untuk melindungi ibu dan bayi dari komplikasi saat melahirkan, mencegah kematian ibu selama kehamilan dan persalinan, serta menghindari kematian bayi baru lahir sampai satu bulan pasca- persalinan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Sulit mengakses</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="DE"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Di Gujarat, sekitar 25.000 ibu meninggal saat melahirkan dan mayoritas tinggal di daerah terpencil. Setiap 1.000 kelahiran, dua ibu meninggal saat bersalin. Penyebabnya, antara lain, perdarahan dan infeksi. Angka kematian bayi baru lahir juga tinggi. ”Banyak ibu sulit mengakses fasilitas kesehatan saat melahirkan karena tak punya biaya dan terbatasnya sarana transportasi,” kata Chief Minister Pemerintah Gujarat Shri Narendra Modi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Negara Bagian Gujarat meluncurkan skema Chiranjeevi untuk menjamin ibu hamil yang miskin dapat melahirkan dengan aman di klinik bersalin atau rumah sakit rujukan pemerintah. Pelayanan itu termasuk pemeriksaan kehamilan, USG, persalinan, dan la- yanan kesehatan dasar bayi baru lahir.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Layanan ini diberikan di rumah sakit dan klinik swasta yang ikut dalam skema itu. Setiap ginekolog yang ikut dalam skema ini menandatangani perjanjian dengan Kepala Distrik Bidang Kesehatan untuk menangani persalinan minimal 100 pasien miskin. Kepada para dokter spesialis kandungan dan kebidanan itu, pemerintah membayar 1.795 rupee (setara Rp 500.000) per kelahiran. Dalam waktu kurang dari dua tahun, jumlah ginekolog meningkat drastis dari 7 orang di daerah terpencil menjadi 868 dokter spesialis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Di lima distrik yang menjadi proyek percontohan, sampai September 2006 tercatat 26.969 perempuan yang mendapat layanan dari skema itu. ”Dengan peningkatan akses dan kualitas layanan persalinan, angka kematian ibu (AKI) dan bayi baru lahir turun drastis. Dari perkiraan AKI 101 jiwa, setelah skema itu dijalankan hanya tercatat angka kematian ibu dua orang,” kata Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Pemerintah Gujarat Rita Teaotia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Keberhasilan itu membuat skema tersebut dikembangkan dari 5 distrik menjadi 25 distrik di Negara Bagian Gujarat pada akhir September 2008. Data terakhir menunjukkan, 235.289 persalinan di bawah skema Chiranjeevi. Dari total jumlah itu, 205.922 adalah persalinan normal, 14.535 dengan operasi cesar (6,18 persen), persalinan dengan komplikasi 14.832 (6,30 persen). Adapun keterlibatan dokter spesialis sebesar 868 per 2.000 persalinan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Skema Chiranjeevi juga menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan perempuan lainnya di antaranya pencegahan penyakit yang ditularkan lewat hubungan seksual, pap smear untuk mencegah kanker serviks, dan pelayanan kontrasepsi. </span><span style="font-size:11pt;">Atas terobosan itu, pada tahun 2006 Wall Street Journal menganugerahkan Penghargaan Inovasi Asia kepada Pemerintah Gujarat, India.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Adapun pemerintah pusat India memberi dukungan dana nutrisi 500 rupee dan uang transpor ke fasilitas kesehatan 200 rupee untuk setiap ibu. Dengan skema Chiranjeevi dan sejumlah program inovatif lain, angka kematian ibu melahirkan turun drastis. Dari perkiraan angka kematian 941 ibu melahirkan, ternyata angka kematian yang dilaporkan di bawah skema Chiranjeevi hanya 46 jiwa. </span><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Ini berarti 895 jiwa ibu berhasil diselamatkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Angka kematian bayi baru lahir juga turun drastis. Dari perkiraan angka kematian 8.941 jiwa, ternyata jumlah bayi baru lahir yang meninggal 987 bayi. ”Ini membuktikan kerja sama pemerintah dan dokter spesialis memberi peluang pasien miskin di daerah terpencil untuk mendapat pelayanan kesehatan yang bagus,” kata dr Amarjit Singh, Sekretaris Jenderal sekaligus Komisioner Kesehatan, Pelayanan Kesehatan, Pendidikan Kedokteran dan Riset Pemerintah Gujarat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Inovasi</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="DE"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">”Kemitraan pemerintah dan swasta di Gujarat merupakan inovasi bagus untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir dalam mencapai sasaran pembangunan milenium,” kata Direktur Kesehatan Keluarga dan Komunitas WHO Regional Asia Timur dan Selatan (SEARO) Dini Latief, pada pertemuan tingkat tinggi WHO SEARO di Ahmedabad, Gujarat, India.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sejauh ini, 11 negara anggota WHO SEARO memberi kontribusi populasi 1,7 miliar jiwa atau seperempat dari populasi dunia yang berjumlah 6,6 miliar penduduk. Dari 536.000 kasus kematian ibu di dunia tahun 2005, hampir 32 persen atau 170.000 di antaranya ada di kawasan tersebut. Secara global ada 9,7 juta kasus kematian anak balita pada tahun 2006 dan 28 persen di antaranya di Asia Timur dan Selatan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Prof K R Nayar dari Universitas Jawaharlal Nehru, India, memaparkan, ada perbedaan nyata angka kematian ibu, bayi baru lahir, dan anak balita di negara maju dan berkembang. </span><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Contohnya, angka kesakitan tuberkulosis di India 100 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika Serikat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Untuk itu, kemitraan pemerintah dan swasta sebagaimana dilakukan di Gujarat merupakan salah satu jalan mempercepat peningkatan derajat kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak balita.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="DE">Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Suryono Santoso optimistis berbagai inovasi dalam pemeliharaan kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak balita juga bisa dilakukan di Indonesia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">sumber : kompas cetak edisi 28 November 2008</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="DE"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniabelajar137.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniabelajar137.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniabelajar137.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniabelajar137.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniabelajar137.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniabelajar137.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniabelajar137.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniabelajar137.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniabelajar137.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniabelajar137.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniabelajar137.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniabelajar137.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniabelajar137.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniabelajar137.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniabelajar137.wordpress.com&amp;blog=6955612&amp;post=162&amp;subd=duniabelajar137&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniabelajar137.wordpress.com/2009/03/16/belajar-dari-gujarat-membuat-ibu-dan-bayi-panjang-umur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0ee3025109d6fa73ad46f66215833ad0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">duniabelajar137</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
