Qurban Kang Slamet

Masih jelas teringat di sedikit ruang hatiku, akan ketulusan seorang
Tuna Netra
bernama “Slamet”. Saat aku masih sekolah tingkat pertama di SMP
Banyumas,
Jawa Tengah Kala itu aku memutuskan untuk mencoba tinggal dan sekolah
jauh dari
orang tua yang berada di Jakarta. Aku tinggal bersama Bude di Desa
Wogen,
Kaliori Banyumas. Desa kami terletak persis di tepi sungai Serayu,
yang kadang
airnya hijau dan kadang coklat bila hujan turun.
Sudah menjadi kebiasaan warga desa menjadikan sungai sebagai MCK.

Bukan karena malas mandi di sumur, tetapi karena keterbatasan
kemampuan
warganya untuk membuat sumur yang harganya cukup mahal. Hanya
beberapa warga
saja yang sanggup membuat sumur di rumah, dan warga yang tak
mempunyai sumur
akan meminta airnya untuk mengisi gentong persediaan minum dan
memasak.
Sementara untuk mandi, mencuci dan “membuang sisa olah makanan dalam
perut”
sudah tentu sungai Serayu tempatnya.

Adalah pemandangan umum, bila pagi hari para lelaki dewasa melakukan
kegiatan
“ngangsu”(mengambil air) dari sumur tetangga yang mampu. Tidak
terkecuali
Kang Slamet (begitu panggilan akrab kami untuknya) juga mempunyai
kegiatan
ngangsu tersebut.
Meskipun dia belum lagi dewasa benar, mungkin
umurnya hanya
terpaut dua/tiga tahun denganku. Sungguh sebuah rutinitas cukup
berat, meskipun
menyehatkan.

Apalagi Kang Slamet tidak seberuntung kami yang mempunyai panca
indera yang
lengkap. Dengan intuisi dan kebiasaan karena rutin dilakukan, dia
dapat pulang
pergi dari rumah orang tuanya ke sumur terdekat tanpa pernah tersesat.
Pekerjaan itu sudah dilakoninya semenjak dia berumur sembilan tahun,
saat
anak-anak sebayanya tertawa gembira pergi ke sekolah.

Di kampung kami belum tersedia sekolah khusus tuna netra, kalau pun
ada belum
tentu Kang Slamet dapat ikut mengenyam pendidikan SLB yang biayanya
pasti mahal.
Tak akan sanggup keluarga Kang Slamet yang hanya petani “kecil”
membayar
uang buku, karena untuk makan saja mereka hanya mengandalkan hasil
tani dari
secuil tanah yang mereka miliki.

Selain ngangsu, keseharian Kang Slamet adalah “ngarit”, mencari rumput
untuk pakan ternak. Karena ketekunannya, banyak tetangga yang
memelihara sapi
atau kambing, memakai jasa beliau mencari rumput dan sisa-sisa panen
kacang
& kedelai di sawah.
Satu hal yang aku kagum pada sosok pemuda yang satu ini, dia tidak
pernah
tertinggal sholat lima waktu. Bahkan dilakukannya di tepi sawah saat
dia mencari
rumput, apabila suara Adzan sudah terdengar. Sering pula dengan
berjamaah di
Surau milik Pak Lebe (Lebay/Ustadz) .

Satu-satunya pendidikan yang dia dapat hanyalah mengaji di Surau Pak
Lebe.
Walau dia hanya belajar mengaji melalui pendengaran (lagi-lagi karena
Al
Qur’an dengan huruf Braile pasti sulit di dapat) tetapi dia cukup
hafal
surat-surat di Juz Amma, mungkin karena tak pernah absen mengaji dan
berkat
sholat Subuh berjamaah rutin yang di adakan Pak Lebe di Suraunya,
sehingga Kang
Slamet banyak mendengar surat-surat yang dibacakan dalam pengajian
dan sholat.
Tidak jarang Kang Slamet menjadi Imam bila kami anak2 dan remaja
sholat
berjamaah. Suaranya cukup merdu dan enak di dengar telinga.

Suatu hari, Kang Slamet mendapat kebahagiaan yang tak terperi. Pak
Trunosemito,
penduduk desa yang punya sedikit kelebihan harta, memberikan cempe
(seekor anak
kambing) jantan padanya, sebagai ucapan terima kasih atas rumput yang
selalu
dicarikan kang Slamet untuk kambing-kambing peliharaan.
Mata “buta”nya tak
dapat menutupi kebahagiaan yang terpancar menyala-nyala dari wajah.

” Ya Gusti Alloh, syukur Alhamdulillah, nek cempene wis gedhe kulo
iso melu
Qurban, (Syukur Alhamdulillah, kalau anak kambingnya sudah besar,
saya bisa ikut
Qurban)” dengan keyakinan penuh dia berucap saat kami tanya akan di
apakan
anak kambing itu.
” Lho…….. apa ora eman-eman, koe iso ngingu, nek wis gedhe iso di
dhol
neng pasar. Duite iso di tabung (apa tidak sayang, kamu bisa
memeliharanya,
nanti kalau sudah besar bisa dijual di pasar. Uangnya bisa ditabung)”
kami
yang berkumpul mendengarkan ucapannya ikut sumbang saran.

” He he he, ora opo opo, nggo Qurban wae (tidak apa-apa, untuk Qurban
saja)” sambil tertawa lucu, kang Slamet tetap pada pendiriannya.

Waktu berlalu, kami semua melewatinya dengan rutinitas seperti biasa.
Hingga
suatu hari tiba musim kemarau yang amat panjang, lain seperti kemarau-
kemarau
sebelumnya. Sumur milik warga desa satu persatu mulai kering. Semakin
jauh saja
kami mendapatkan air bersih untuk memasak dan minum. Air di sungai
Serayu yang
mulai dangkal, meski tampak bening, hanya bisa kami gunakan untuk
mandi dan
mencuci saja.

Begitu pula tanaman di sawah. Tak satupun yang dapat tumbuh dan
mengalahkan
teriknya matahari. Para petani di desa kami hanya mengandalkan
pengairan dari
air hujan (sawah tadah hujan). Semua terkena dampak dari musim
paceklik saat
itu. Tidak terkecuali Kang Slamet, semakin jauh saja dia “ngangsu” dan
“ngarit”, mencari rumput pakan ternak. Melewati jalan setapak yang
baru
pertama kali di rambah, tentulah bukan hal yang mudah untuk seorang
tuna netra.
Masih beruntung bila bisa bertemu orang lewat yang bisa di mintai
tolong
menunjukkan arah menuju sumur yang tidak kering.

Keadaan sulit itu semakin sulit saja bagi kang Slamet, kadang hingga
Maghrib
dia baru bisa pulang ke rumah dengan badan luluh lantak karena
seharian memikul
air dan rumput yang tidak seberapa banyak, tetapi jarak yang di
tempuh cukup
untuk mengitari seluruh desa.

Kang Slamet juga manusia, tak selamanya fisiknya dapat tetap bugar
melawan
putaran perubahan alam. Akhirnya dia tumbang juga, jatuh sakit.
Hampir satu
minggu dia tidak muncul melakukan rutinitas seperti biasa.
Tugas “ngangsu”
sementara digantikan oleh sang Bapak yang mulai renta.

Setelah lewat satu minggu, kesehatan kang Slamet belumlah pulih
benar, kembali
cobaan menghampirinya. Anak kambing peliharaannya yang mulai besar,
tiba-tiba
mati. Mungkin tertular penyakit hewan musiman, atau bisa jadi mati
kekurangan
pakan karena memang sudah lebih seminggu ini tak ada yang
memperhatikan.
Anak malang itu sedih bukan alang kepalang. Harta satu-satunya yang
dia punya
diambil oleh Yang Maha Memiliki. Sirna sudah harapan kang Slamet
untuk dapat
ber-Qurban.
Beberapa hari setelah berita kematian kambingnya, kami melihat kang
Slamet
terpekur bersimpuh di sudut Surau. Air bening meleleh deras di kedua
pipinya.

Kami tak sampai hati untuk menegurnya ataupun mengucapkan sekedar
salam. Hingga
datang pak Lebe ke Surau saat Ashar tiba. Melihat yang terjadi,
dengan tenang
beliau menghampiri bocah yang sedang dirundung nestapa itu.

” Ono opo tho Met ? Cah lanang koq nangis ? (Ada apa Met ? Anak laki-
laki koq
nangis ?)” dengan lembut dan seolah-olah tak tahu kejadian yang
terjadi, pak
Lebe menepuk pundak kang Slamet.
Kang Slamet tak langsung menjawab, tangan kekarnya berusaha menutupi
air mata
yang mengalir. Dengan sisa sesenggukan yang ada dia berkata, ” Kulo
ora iso
Qurban pak, sak umur-umur uripku, wedhus iku sing dhadhi karepku nggo
tak
persembahke ke Gusti Alloh.(Saya tidak bisa ber-Qurban pak, seumur
hidupku,
kambing itu yang jadi harapan untuk dipersembahkan pada Gusti Allah)”

” mmmm…….. . Gusti Alloh ngerti kekuatan hamba-hambaNya. Ndak
mungkin
Gusti Alloh mekso-mekso (memaksa) yen (kalau) hambaNya ndak sanggup.”
dengan sangat tenang dan teduh pak Lebe mengobati kesedihan kang
Slamet.

” Jalaran keikhlasan.. ..wedhuse wis ngenteni awakmu ning Syurgo,
kanggo
tungganganmu ngesuk ning akherat (Karena keikhlasan.. …kambingnya
sudah
menantimu di Surga, untuk kendaraanmu kelak di akhirat)” kalimat
terakhir pak
Lebe ini yang tidak bisa ku lupa hingga detik ini.

Kini, aku tidak tahu lagi keberadaan dan kabar kang Slamet, hampir
dua puluh
sembilan tahun yang lalu peristiwa ini terjadi, aku belum bisa
menghilangkan
rasa “iri”ku pada sosok pemuda tuna netra dengan keikhlasan yang tanpa
batas, menembus akal sehat orang yang bekerja di kota besar seperti
diriku saat
ini. Yang akan sangat berat melepas sebagian hartanya untuk di
qurbankan di
jalan Allah, apalagi mempersembahkan seluruh harta yang di miliki
untuk Allah
sang Pemilik Sesungguhnya seluruh alam dan isinya. Kami pekerja
kantoran, yang
tidak perlu “ngangsu” beratus-ratus meter dengan telanjang kaki hanya
untuk
mendapatkan dua ember air, dan tak perlu bertahun-tahun “ngarit”
hanya untuk
seekor anak kambing, tidak mempunyai keikhlasan yang penuh untuk ber-
Qurban di
jalanNya.

Kami yang mencari rizqi di tempat luar biasa mewah, di atas gedung
tinggi
menghujam langit, dengan suasana nyaman, duduk di kursi empuk, lebih
memilih
membeli hewan Qurban “patungan” sumbangan perusahaan dari pada
menyediakan
sendiri Qurban-nya dari harta yang banyak tersimpan.
Kang Slamet pemuda tuna netra dan miskin, seperti kata pak Lebe,
sudah memiliki
sendiri kendaraan yang akan digunakannya kelak di akhirat. Sedangkan
kami yang
berkecukupan hanya menyediakan se-ekor sapi untuk kami tunggangi
bersama-sama
ratusan orang satu kantor.

sumber : http://www.eramuslim.com

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: