Ahmad Benyamin dan Jeruk dari Kerinci

Ketenangan hidup Ahmad Benyamin belakangan ini terusik. Ia risau melihat petani yang tetap saja berekonomi serba pas-pasan walau sudah bekerja keras. Ia pun terdorong untuk berbuat sesuatu bagi mereka.

Dari sebuah pendopo kecil yang sederhana di tengah hamparan kebun jeruk seluas 8 hektar miliknya, pria berusia 58 tahun ini memandangi rumah kayu berlantai dua di atas bukit perkebunan stroberi.

”Rasanya ruangan di dalam sana bisa muat untuk sekitar 20 petani,” tutur Koai, panggilan Ahmad Benyamin, sambil memperbaiki letak rambut putihnya yang berkibar tertiup angin.

Udara pagi yang sejuk itu kami nikmati dari kaki Gunung Kerinci, tepatnya di Desa Telung Berasap, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Lokasi ini hanya berjarak sekitar 300 meter dari perbatasan dengan Sumatera Barat dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Bangunan yang dimaksud Koai kemudian dijadikan kelas bertani hortikultura organik. Tidak hanya para petani yang dapat belajar di tempat ini, mahasiswa atau siapa pun yang berminat mengembangkan pertanian organik dapat bergabung.

Maka, tak heran kalau kebun hortikultura milik Koai kerap dikunjungi petani. Mereka umumnya datang untuk berkonsultasi soal tanaman. Ada yang mengeluh soal serangan hama, mahalnya benih kentang, sampai harga panen yang anjlok.

Koai tak pernah menolak kedatangan mereka. Tangannya selalu terbuka untuk menyambut, tak terkecuali tamu-tamu dari luar daerah yang datang untuk mencicipi segarnya stroberi, jeruk, dan labu mas dari kebunnya.

Mereka tak pernah pulang dengan tangan kosong. Selain buah-buahan hasil panen yang dapat dinikmati, Koai kerap memberi bibit tanaman secara gratis sebagai oleh-oleh bagi para tamu. Semua itu ia lakukan dengan harapan agar semakin banyak orang cinta dan mau bertani.

Ia sering kali miris melihat petani di desanya sulit memperoleh penghidupan layak. Sebagian besar di antara mereka hanya buruh tani. Walau ada petani yang memiliki cukup lahan, tetapi umumnya tak juga mampu menghasilkan panen yang maksimal karena kerap dipermainkan tengkulak.

Koai berhasrat membantu petani keluar dari persoalan klasik ini. Setelah membangunkan sebuah kamp, yang menjadi ”sekolah diklat” petani, ia berharap mereka lebih memahami pertanian organik terpadu hortikultura. Dengan cara inilah, petani dapat menerapkan cara bertanam yang bebas kimia sekaligus bisa berhemat biaya produksi.

Di dalam kamp, petani dapat belajar dan berbagi ilmu. Hamparan kebun miliknya itu menjadi uji coba bagi mereka. Ini termasuk laboratorium kecil untuk pembibitan. Ia juga menyediakan dapur kebun sederhana untuk kegiatan pembibitan dan produksi pupuk kandang.

Pulang kampung

Kecintaan Koai pada pertanian organik hortikultura berawal dari kegamangannya bekerja pada industri kayu. Ia sempat menjadi pegawai negeri sipil di Kalimantan, tetapi merasa bosan. Koai lalu banting setir menjadi pengusaha kayu.

Meski harta mudah didapat dari industri kayu, ia justru merasa gamang. Ia sempat ”protes” akan kehidupan yang dijalaninya. Dalam puncak kegamangan itu, sang ayah yang belum lama memiliki kebun jeruk di Telung Berasap, Kerinci, menawarinya untuk pulang kampung. Koai menyambut ajakan itu.

Kebun jeruk itu mulai dia kelola tahun 1996. Semula hanya jeruk siam yang bibitnya diambil dari Bengkulu dan Tawangmangu yang ditanam. Keluarganya adalah petani perintis penanaman jeruk di kaki Gunung Kerinci itu.

Setelah jeruk berbuah, hasil panen ia jajakan di depan pintu masuk kebun. Setiap hari selalu habis sekitar 100 kilogram. Penjualan selalu berlipat dua kali pada masa Lebaran. Cukup banyak peminat jeruk Koai karena angkutan umum dan travel yang membawa penumpang kerap lewat dan mampir di kebunnya.

Sebagian petani yang melihat kebun itu lalu tertarik menanam jeruk juga. Sampai sekarang sekitar 200-an hektar areal ditanami jeruk oleh masyarakat sekitar kaki Gunung Kerinci.

Menyadari persaingan usaha jeruk semakin tinggi, Koai justru tak khawatir. Ia memilih menambah ragam tanaman di areal kebun. Maka, selain jeruk terdapat pula stroberi, labu mas, dan markisa.

Kepada sembilan karyawannya, Koai menyisakan sebagian lahan untuk menjadi hak guna mereka. ”Mereka bebas mau menanam apa saja, dan hasil panen dapat dinikmati penuh untuk keluarga masing-masing,” tuturnya.

Cara ini dirasakannya lebih memanusiakan buruh tani, karena selepas kerja di kebun sampai pukul 13.00, para karyawan dapat menggarap lahan mereka sendiri. Dengan demikian mereka mendapat penghasilan yang bisa lebih menyejahterakan.

Disi sisi lain, para buruh tani pun dapat lebih mandiri. Hasil panen jeruk bisa langsung mereka jual kepada konsumen, tak perlu melalui tengkulak. Koai senang, sebab petani yang semula miskin, sekarang bisa menyekolahkan anak-anak mereka.

Menolak ketergantungan

Prinsip yang Koai tekankan kepada para petani adalah menolak ketergantungan kepada pasar. Yang dimaksudnya bukan sekadar pasar penjualan hasil panen, tetapi termasuk juga bibit. Untuk merealisasikannya, petani harus tekun melaksanakan pembibitan secara mandiri.

Ia menceritakan pengalamannya membudidayakan stroberi. Pada masa awal, ia membeli dua bibit stroberi dari seorang pedagang tanaman di pasar. Dari dua batang bibit itulah, dalam kebunnya kini telah terhampar 3.000-an pohon tanaman stroberi, yang bisa dipanen sekitar 25 kilogram setiap hari. Stroberi paling diminati pengunjung. Tak sampai sore, buah berwarna merah ini sudah habis terjual.

Menurut dia, bila petani bergantung terus pada bibit dari pedagang atau bantuan pemerintah, keuntungan mereka menjadi kurang maksimal. Apalagi jika harga bibit itu terus merangkak naik.

Petani kentang di Kerinci, misalnya, menurut Koai, ada baiknya memanfaatkan bibit dari stelon kentang. Alasannya, dari satu kentang berharga Rp 500 bisa didapatkan lebih dari 10 bibit. Pemanfaatan ini bisa dikatakan tak berbiaya.

”Kalau 1 kilogram bibit kentang Rp 6.000, coba hitung berapa banyak petani bisa berhemat untuk menanam 100 kilogram,” tuturnya.

Buah-buahan dari kebun Koai rasanya manis, segar, dan wanginya lembut. Ini dihasilkan tanpa rekayasa kimia. Setiap proses penanaman di sana memanfaatkan kotoran ayam, sapi, dan kelinci, serta racikan tumbuh-tubuhan untuk pembasmi hama.

”Ini hasil endapan kencing kelinci,” ujarnya sembari membuka tutup sebuah jeriken. Aroma pekat keluar dari situ. ”Baunya khas. Tapi, ini yang justru membikin buah-buahan di sini harum dan manis,” tuturnya.

Irma Tambunan
Sumber : Kompas Cetak

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: