Sumanto, Pustakawan dari Bantul

Berkeliling dengan sepeda onthel untuk menyewakan buku secara cuma-cuma adalah aktivitas sehari-hari Sumanto, selama empat tahun sebelum gempa melanda Bantul pada 2006. Setelah gempa, aktivitas keliling itu tetap dilakukannya. Namun, dia tak lagi menggunakan sepeda onthel, tetapi dengan sepeda motor beroda tiga, sumbangan dari orang yang bersimpati kepadanya.

Kegiatan menyewakan buku-buku itu mulai digeluti Sumanto sejak tahun 2003. Pengalamannya menjadi tenaga survei dalam proyek pengentasan kemiskinan telah membuka matanya akan arti pentingnya membaca bagi masyarakat di lapisan apa pun.

”Dalam kegiatan survei itu, saya melihat banyak kemiskinan di sekitar desa saya. Salah satu penyebabnya karena minimnya tradisi membaca. Ini pun berkaitan dengan kesulitan mereka untuk membeli buku,” katanya.

Dengan koleksi sekitar 500 buku, Sumanto lalu mendirikan perpustakaan swadaya di rumahnya. Perpustakaan itu diberinya nama Mitra Tema. Memanfaatkan ruangan berukuran 2 x 6 meter, ia menata koleksi buku-bukunya.

Namun, Sumanto tak hanya berharap pada pengunjung yang mau datang ke rumahnya. Dia juga menjajakan buku-bukunya berkeliling ke berbagai tempat dengan sepeda onthel-nya.

”Saya harus berkeliling untuk ’menjemput bola’. Tidak mungkin saya hanya mengandalkan pembaca yang mau datang ke rumah. Kan, saya yang ingin mengajak masyarakat agar banyak membaca,” ceritanya.

Semua itu dikerjakan Sumanto nyaris tanpa pamrih apa pun. Ia tidak dibayar oleh siapa pun, dan ia juga meminjamkan koleksi buku-bukunya secara gratis. Untuk mencukupi kebutuhannya, ia membudidayakan pisang dan singkong.

”Saya tetap harus menghidupi istri dan anak-anak saya. Selain bertani, saya juga harus bekerja di bidang bangunan,” kata Sumanto.

Ketika koleksi bukunya masih sedikit, Sumanto menyiasatinya dengan kreatif. Ia bekerja sama dengan perpustakaan keliling milik Pemerintah Kabupaten Bantul. Sistem kerja samanya, Sumanto bersedia mencarikan anggota baru bagi perpustakaan keliling asal ia bisa meminjam buku untuk kemudian dipinjamkannya lagi.

”Waktu itu belum banyak yang mau menyumbangkan buku. Kalau hanya mengandalkan koleksi saya sendiri, masyarakat pasti jenuh juga. Makanya, saya bekerja sama dengan perpustakaan keliling, yang waktu kunjungannya tidak terlalu sering,” katanya.

Lambat laun usaha Sumanto mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sumbangan buku kemudian terus mengalir. Kini, koleksinya sekitar 20.000 judul buku. Kondisi itu membuat dia makin bersemangat untuk mengajak masyarakat gemar membaca.

Saat gempa menimpa Bantul pada 27 Mei 2006, sebagian rumah Sumanto hancur, termasuk bangunan perpustakaan. Sekitar 3.000 buku rusak. Keterpurukannya itu mengundang simpati seorang distributor buku.

”Orang itulah yang membantu membangun kembali ruang perpustakaan,” katanya.

Sepeda motor

Pasca-gempa ia juga mendapatkan bantuan sepeda motor beroda tiga. Dengan fasilitas lebih baik, Sumanto bisa membawa sekitar 400 buku setiap kali berkeliling. Dulu, sewaktu menggunakan sepeda onthel, ia hanya mampu membawa 60 buku.

Wilayah kunjungannya juga makin luas. Kalau dulu ia hanya mampu menjangkau 52 titik di empat kecamatan (Imogiri, Pleret, Jetis, dan Bantul), belakangan bertambah menjadi 89 titik. Ada tiga kecamatan baru yang dirambahnya, yakni Sewon, Pundong, dan Bambanglipuro.

Titik-titik kunjungan perpustakaan kelilingnya berupa masjid, panti asuhan, toko-toko, dan kantor-kantor pemerintahan. Untuk lokasi yang pembacanya anak-anak, Sumanto memilih berkeliling seusai jam sekolah. Adapun untuk pembaca umum, biasanya ia datangi pada pagi atau sore hari.

Kegigihan Sumanto itu membuat jumlah peminjam terus bertambah. Selama tahun 2007, jumlah peminjam buku di perpustakaannya mencapai 7.156 orang, sedangkan pengunjung perpustakaan sampai 20.320 orang.

Meski tak memiliki latar belakang bidang perpustakaan, Sumanto tergolong piawai dalam mengelola perpustakaan. Buku-buku koleksinya dibagi menjadi kategori SD, SMP, SMA, agama, dan umum.

”Sistem pengelolaan itu saya pelajari dari perpustakaan milik Provinsi DIY di Jalan Malioboro. Kebetulan sewaktu SMA, saya sering nongkrong di tempat itu,” katanya.

Untuk membantu pengelolaan perpustakaan sewaktu ia berkeliling, Sumanto mempekerjakan seorang pegawai di perpustakaannya dengan upah Rp 300.000 per bulan.

Agar ia bisa membayar pegawainya itu, sang istri membuka tempat penitipan anak dengan tarif seikhlasnya. Beberapa keluarga yang menitipkan anak mereka pun memberinya sekitar Rp 50.000 per minggu. Selain itu, Sumanto juga menyewakan empat unit komputer dengan tarif Rp 500 per jam.

Jerih payah dan semangat Sumanto untuk menarik masyarakat agar gemar membaca, membuahkan hasil. Usahanya mengembangkan perpustakaan swadaya mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta. Ia antara lain menerima piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo.

Ia berkisah, menjadi pustakawan bukan impiannya. Meski dilahirkan di Bantul, tetapi sejak 1982 Sumanto merantau ke Jakarta. Selama sekitar 13 tahun, dia bekerja di PT Astra International. Namun, ritme kerja yang cepat rupanya tak cocok baginya. Sumanto merasa teralineasi secara sosial. Ia lalu mengundurkan diri saat menempati posisi sebagai kepala stok mobil.

Setelah itu, ia berusaha mencari pekerjaan baru yang relatif tak terlalu mengikat dari segi waktu. Pilihannya jatuh di bidang asuransi.

Akan tetapi, mengingat kondisi orangtuanya di Bantul, Sumanto kemudian memutuskan kembali ke Bantul dengan segala risiko, terutama dari sisi finansial. Tujuannya satu, ingin mendampingi orangtua sebagai bentuk pengabdian seorang anak.

Sesampai di desa, ia sempat bingung tak punya pekerjaan tetap. Semua tawaran kerja dilakoninya, termasuk menjadi anggota tim survei Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). Di sinilah ia banyak bergelut dengan dunia kemiskinan. Ia melihat kemiskinan itu berkaitan dengan minat baca masyarakat. Di sinilah inspirasi mendirikan perpustakaan itu muncul.

”Memang sudah ada beberapa perpustakaan di Bantul, tetapi sayangnya, sebagian besar malah mati. Penyebab utamanya, ya, sumber daya manusia. Makanya, saya yakin bisa mengelola perpustakaan asal ada kemauan kuat dari diri sendiri,” katanya.


DATA DIRI

Nama: Sumanto

Lahir: Bantul, DI Yogyakarta, 12 Mei 1961

Alamat: Dusun Jati, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul

Istri: Siti Mardila (48)

Anak:

– Alfi Miranti Hanifah (almarhumah)

– Merviana Aulia (19)

– Baihaqi Handono (16)

– Ariyanti Latifah (14)

Pendidikan:

– SD Sriharjo, Imogiri, Bantul

– SMP Muhammadiyah I, Imogiri, Bantul

– SMA Putra Bakti Pleret, Bantul

Pekerjaan:

– PT Astra International

– Nabasa Life Insurance

– Asuransi Panin

Penghargaan:

– Piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo dari Pemprov DI Yogyakarta, 2006

– Juara II lomba Jambore Reading Club, 2008

– Pengelola Perpustakaan Terbaik Bantul, 2008

sumber : Kompas Cetak edisi 4 Desember 2008

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: