Wulandari dan Pengajaran Bahasa Inggris

Rabu, 26 November 2008 | 02:14 WIB

RUNIK SRI ASTUTI

Sri Wulandari menyadari, bahasa Inggris adalah media pembuka jendela dunia. Akan tetapi, karena faktor ekonomi, banyak masyarakat yang belum mampu berbahasa Inggris. Kesadaran itulah yang membuat dia ngotot mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak dari kampung ke kampung. Semuanya diberikan secara cuma-cuma.

Bersama enam temannya sesama alumni lembaga kursus bahasa Inggris di Kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur, Wulan mendirikan sebuah organisasi sosial kepemudaan yang bergerak di bidang pendidikan. Namanya Forum Putra Daerah Peduli Pendidikan (FPDP2) yang didirikan pada tahun 2003. Lembaga ini memberikan pendidikan bahasa Inggris yang baik dan benar kepada segenap lapisan masyarakat tanpa memandang strata sosial.

Materi bahasa Inggris dipilih karena merupakan bahasa internasional. ”Bahasa Inggris adalah suatu kebutuhan, sama halnya dengan bahasa Indonesia. Bangsa kita tertinggal, salah satu penyebabnya, karena masyarakat tidak dapat berkomunikasi menggunakan bahasa dengan baik dan benar,” ujar penerima penghargaan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Sarjana Penggerak Pemuda Pedesaan tahun 2006 ini.

Oleh karena itu, visi lembaga yang dibentuknya itu adalah membangun komunitas berbahasa Inggris di Kediri. Konkretnya, dengan membentuk klub- klub di lingkungan sekolah dan sanggar belajar di lingkungan masyarakat. Kegiatan klub di sekolah dilakukan seusai jam pelajaran. Ternyata, antusiasme siswa menyambut kegiatan belajar tambahan itu sangatlah tinggi.

”Peminat selalu membeludak, apalagi pada saat menjelang ujian akhir. Nuansa belajar di klub yang tidak formal membuat anak-anak merasa betah,” kata Juara I Bidang Kepeloporan Pendidikan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, 2006. Untuk memotivasi siswa, setahun sekali digelar kompetisi bahasa Inggris antarsekolah. Untuk menjaga kesinambungan klub bahasa Inggris di sekolah, FPDP2 membina siswa-siswi berprestasi menjadi pengurus klub.

Mengembangkan kelompok belajar di sanggar jauh lebih sulit dibanding di klub di sekolah. Sampai tahun 2008, baru enam sanggar belajar di enam kelurahan dari 46 kelurahan di Kota Kediri yang berhasil didirikan. Akan tetapi, kini dua sanggar mati suri.

Kendala dana

Banyak kendala menghadang, terutama sulitnya mencari lokasi karena keterbatasan dana. Sebagai lembaga sosial yang bergerak di bidang pendidikan, pendanaan FPDP2 tergantung pada iuran pengurus. Iuran itu dipakai untuk membiayai operasional, mulai menyiapkan modul, membeli alat tulis, hingga menyewa rumah untuk mendirikan sanggar belajar.

Kondisi keuangan yang tidak cukup itu membuat Wulan kurang leluasa bergerak. Namun, ia harus mencari cara agar niat baik terwujud. Untuk mendirikan sanggar, misalnya, ia mencari orang yang bersedia meminjamkan ruang di rumahnya. Jika itu tercapai, barulah ia mencari pengajar yang rela tidak dibayar.

Bagi gadis kelahiran Kediri, 27 tahun silam ini, mengajar tanpa dibayar merupakan hal biasa. Bahkan, lebih sering ia harus merogoh kocek pribadi. Tak ayal lagi, hasil kerja kerasnya memberikan les privat terkuras untuk membiayai kegiatan sanggar belajar. Uang yang ia kumpulkan untuk biaya kuliah di Jurusan Bahasa Inggris Universitas Islam Kediri juga tak pernah bertahan lama di kantongnya. Padahal, Wulan harus membiayai sendiri kuliahnya.

Ayahnya yang bekerja di PT Gudang Garam Kediri berpenghasilan pas-pasan, sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga. Apalagi Wulan memiliki tiga adik yang juga memerlukan biaya sekolah.

Untuk memungut biaya dari murid-murid yang belajar di sanggar, ia tidak tega. Pasalnya, mereka adalah anak orang-orang dengan penghasilan pas-pasan. ”Anak-anak mau datang dan belajar saja sudah bagus. Kalau ditarik iuran, nanti malah kabur,” katanya.

Meski demikian, putri pasangan Waluyo dan Sugiarti ini tak pernah mengeluh soal uang. Semangatnya juga tidak meredup hanya karena kesulitan dana. Sebaliknya, semua masalah yang menerpa perempuan yang baru dipersunting Syam Al Anshory, Oktober 2008, ini justru menjadikan dirinya lebih dewasa.

Oleh karena itu, hampir setiap hari ia memeras otak mencari ide kreatif guna mendapatkan sumber pendanaan yang mampu membiayai kegiatan pendidikan. Salah satunya adalah mengirimkan proposal permohonan bantuan dana ke instansi pemerintah, swasta, dan perorangan.

Yakinkan masyarakat

Belum tuntas masalah pendanaan, masalah lain muncul lagi. Kegiatan belajar bahasa Inggris yang diselenggarakan Wulan dan kawan-kawannya mendapat penolakan dari masyarakat, terutama di kampung-kampung. Bagi sebagian orang awam, apalagi di daerah pedesaan, bahasa Inggris bukan sesuatu yang patut diprioritaskan. Bahasa Inggris juga dianggap membawa pengaruh negatif bagi anak-anak, seperti halnya pengaruh budaya Barat yang dinilai sangat bertentangan dengan nilai-nilai Timur.

Setelah memelopori pendidikan bahasa Inggris di Kediri, Wulan yang sekarang menjadi dosen di Universitas Islam Kediri itu mulai melebarkan sayap ke beberapa kota di Jatim. Ia membangun sebuah organisasi sosial yang dinamakan Aliansi Merah Putih, yang beranggotakan pemuda-pemuda dari berbagai kota di Jatim yang memiliki kepedulian di bidang pendidikan.

”Saat saya berada di luar negeri, saya sadar bahwa bahasa Inggris saya masih buruk. Saya jadi malu dan bertekad untuk memperbaikinya agar bisa memberikan yang lebih baik lagi kepada anak-anak bangsa,” kata perempuan yang pernah meraih ASEAN Youth Award 2006 for Singular Excellence in the choosen field in conjunction with the 13th ASEAN Youth Day Meeting di Malaysia tahun 2006 ini.

sumber : kompas cetak edisi 26 November 2008

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: