Denyut Betawi di Srengseng Sawah

JAKARTA — Seiring waktu berjalan,Jakarta telah berevolusi menjadi sebuah kota modern dengan beragam simbol kemajuan pembangunan di Indonesia. Budaya tradisional pun tersisih dengan perlahan. Kebudayaan betawi sebagai akar peradaban awal kota Jakarta  menjadi salah satu contoh bagaimana modernisasi menyingkirkan kebudayaan yang telah ada berabad-abad.

Beragam cara diusahakan untuk mempertahankan budaya asli Jakarta salah satunya perkampungan budaya betawi yang berlokasi di Jalan Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Perkampungan budaya betawi merupakan sebuah tempat untuk melestarikan budaya betawi agar tidak punah.

“Tadinya direncanakan ada tiga tempat yang diusulkan yakni daerah Rorotan, Jakarta Utara. Kemayoran, Jakarta Pusat dan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan,”ujar Indra Sutisna kepada Republika Online, Sabtu (25/10). Kemudian dipilihlah Srengseng Sawah sebagai pusat perkampungan Betawi dengan pertimbangan kondisi alam yang masih asli dan kemudian terdapat banyak penduduk asli Betawi.

Berdasarkan SK Gubernur No.92/2000 Srengseng Sawah ditetapkan  menjadi pusat perkampungan betawi dengan luas 165 hektar. Dengan perincian 65 hektar milik Pemda DKI Jakarta dan 100 hektar milik masyarakat. Kemudian berdasarkan Perda wilayah menjadi diperluas menjadi 289 hektar dengan perincian 65 hektar milik Pemda dan 224 hektar milik masyarakat.

“Bukan berarti orang Betawi disini seperti orang aborigin yang tidak boleh maju dan sekolah tinggi,”tegas Indra. Masyarakat disini beraktivitas seperti keadaan perkampungan pada umumnya.

Dia menambahkan,masyarakat disini dilibatkan sebagai pemain bukan penonton. Bukanpula objek melainkan subjek. Perkampungan juga memiliki lembaga administratif seperti RT,RW, karang taruna, Majelis Taklim dan organisasi masyarakat lainnya.”Tapi sekali lagi perkampungan ini milik bersama warga jakarta dan semua punya kewajiban sama,”tegasnya.

Serangkaian aktifitas keseharian masyarakat betawi  dapat dijumpai seperti pembuatan minuman tradisional bir pletok, Pembuatan dodol, laksa, kerak telor dan kegiatan tradisional lain.”Setiap hari Sabtu-Minggu diadakan pergelaran kesenian betawi seperti lenong, gambang kromong, dan sebagainya dari pukul 14.00-17.00 WIB,” ujarnya.

Selain budaya dan keramahtamahan penduduk,potensi alam juga menjadi daya tarik tersendiri perkampungan ini dengan adanya dua setu alami yakni : Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong yang dikelilingi pohon-pohon buah khas betawi seperti Kecapi,Sawo dan Namnam. Penampilan rumah tradional Betawi turut menambah kental nuansa tradisional.

Dengan hanya membayar tiket seharga dua ribu rupiah wisata budaya, Agro dan air dapat dinikmati sekaligus.Tak jarang para peneliti,pelajar dan mahasiswa mengunjungi tempat ini untuk mempelajari kebudayaan betawi sekaligus mencari hiburan. Untuk kunjungan lama (penelitian dan edukatif) disediakan sekitar 67 rumah adat untuk menetap.”Kami tidak melihat jumlah pengunjung menjadi tujuan tapi lebih kepada pembelajaran terhadap masyarakat yang datang untuk lebih mengerti masalah budaya,”ungkapnya.

Sudah barang tentu, perkampungan budaya betawi bisa  menjadi alternatif tempat rekreasi dan edukasi warga Jakarta maupun luar jakarta untuk mengenal lebih dekat sebuah kebudayaan.Cr2/kp

sumber : Republika Online

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: