Malaysia Buktikan Evolusi Politik Lewat Teknologi Informasi

teknologi informasi dan komunikasi dalam berkampanye dan menyampaikan pesan oleh partai oposisi di Malaysia telah mendatangkan kemenangan bagi kelompok minoritas. Menurut Ibrahim Suffian, peneliti lembaga jajak pendapat Malaysia, Merdeka Center, penggunaan TIK oleh partai oposisi telah menyebabkan partai Barisan Nasional, yang berkuasa sejak tahun 1957, kehilangan 2/3 kursi di Parlemen pada Pemilu Malaysia 2008, serta memaksa PM Abdullah Badawi lengser pada bulan Maret 2009.

“Oposisi tampaknya lebih siap dan lebih berhati-hati melakukan pendekatan melalui internet,” ujar Ibrahim saat menyampaikan presentasinya yang berjudul, Pemilu dan Kampanye Online, Keberhasilan Internet dalam Pemilihan Umum Malaysia 2008, Senin (1/12) malam di Hotel Santika, Jakarta. Acara ini merupakan kerja sama antara Friedrich Naumann Stiftung dan Lembaga Survei Indonesia.

Oposisi, misalnya, menggunakan teknologi SMS dalam menyebarkan pesan-pesannya kepada masyarakat. Satu minggu sebelum melakukan demonstrasi besar-besaran pada tanggal 10 November 2007, koalisi partai politik oposisi dan masyarakat madani (BERSIH) mengirimkan pesan singkat kepada masyarakat, yang isinya menghimbau mereka agar berpartisipasi dalam aksi menuntut diadakannya reformasi dalam pemilihan umum. Hasilnya, sekitar 40.000-60.000 warga berdatangan dan beraksi di depan istana raja.

Selain itu, mereka juga menggunakan jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, dan bahkan YouTube, karena parpol oposisi tidak diberikan akses ke jaringan televisi utama. Mereka mengandalkan situs-situs tersebut untuk menayangkan pidato-pidato. Selain itu, mereka juga memasukkan video-video klip yang dapat merugikan partai berkuasa.

“Salah satu yang sangat populer ialah video klip yang memperlihatkan PM Malaysia Abdullah tertidur di berbagai peristiwa publik,” ujar Ibrahim.

Tidak lupa, kelompok oposisi juga melakukan distribusi informasi melalui keping CD. Kelompok oposisi HINDRAF (Human Rights Action Force – Kekuatan Aksi Hak Hindu) misalnya, memperlihatkan video penghancuran kuil-kuil Hindu, dan rumah penduduk keturunan India oleh penguasa lokal Malaysia sebelum pemilu 2008. Video tersebut didistribusikan dalam bentuk kepingan CD.

“Video tersebut berhasil mengobarkan emosi pemilih dan memastikan masyarakat tidak memilih partai Barisan Nasional,” kata Ibrahim.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Merdeka Center pascapemilu, 90 persen warga Malaysia mengetahui informasi mengenai pemilu dari media utama, seperti televisi. Namun, dua pertiga di antaranya juga memiliki akses ke sumber-sumber informasi sekunder dan alternatif seperti internet, brosur, CD, dan lainnya.

“Evolusi nilai-nilai politik Malaysia sepertinya akan berlangsung semakin cepat, sejalan dengan semakin tersedianya informasi bagi publik,” kata Ibrahim.

Di Indonesia, akses informasi kepada publik sudah bebas diakses melalui suratkabar, radio, televisi, dan media lainnya. Teknologi informasi khususnya Internet seharusnya menghasilkan gebrakan baru dalam dunia politik Indonesia pada puncak pesta demokrasi 2009.

HIN

Sumber : Kompas Tekno edisi 1 desember 2008

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: